24 Mei
Share this Music
23 Mei
I Want To Be A Pilot, Mama!
Tulisanku kali ini mungkin masih bertema ‘pesawat’! Kau pasti tahu kenapa! Betapa mirisnya aku melihat kejadian-kejadian petaka yang disebabkan oleh ‘burung-besi-gagah-dengan-sayap-tegak mendatar’ itu. Apalagi dengan tragedy yang baru saja merundungkan awan tangisan bagi keluarga besar korban ‘Sukhoi SJJ 100’. Bertambah lagi duka-duka mendalam yang akan tergores menjadi kepingan trauma mengakar tak akan pernah bisa hilang sampai anak-cucu-cicit bahkan canggah. Kisah itu selamanya pasti akan terukir menjadi sebuah kisah cerita abadi yang bakal mengalahkan sebuah novel Best Seller sekali pun. Kisah yang tak akan pernah bisa dibukukan karena tak ada saksi satu pun yang bisa mengungkap detik-detik peristiwa itu. Seolah tak cukup hanya dari Black Box saja kita mampu menceritakan secara rinci untuk menjadi sebuah novel apik dan mengharukan.
Sembilan tahun yang lalu, aku berkenalan dengan ‘Tante Nanik’ panggil beliau seperti itu. Aku memulai perkenalanku dengan beliau di sebuah Kereta Api Executive jurusan Surabaya. Ibu dari tiga anak laki-laki kesemuanya itu terlihat ramah, ringan dalam obrolannya dan tak menyangka walau pun sebatas Ibu rumah tangga namun berhasil menamatkan S3-nya, di Luar Negeri pula. Suaminya yang bekerja sebagai consultant melarang Tante Nanik untuk membantu mencari nafkah sejak mereka berdua menikah beberapa puluh tahun yang lalu. Sempat dulu Tante Nanik bekerja sebagai auditor di sebuah perusahaan sebelum menikah.
“Kapan-kapan haruslah main ke rumah tante, ya…anak tante semuanya laki-laki. Pada pusing kalau sudah pada bandel!” sambil tertawa riang bercerita tentang anak-anaknya. Begitu murah dan mau berbagi nomer ponsel-nya pula padaku.
“Iya, tante…” jawabku ringan saja saat itu. Karena fikiranku yang sedang tak karuan mengejar waktu dan jadwal UAS pagi itu.
Kami berdua terpisah di Stasiun Gubeng. Aku yang turun di Stasiun Gubeng lama, dan beliau turun di Stasiun Gubeng baru.
Dan pada suatu saat, aku menyempatkan bersambang ke gubuk yang alamatnya ditinggalkannya untukku. Rumahnya sangat mungil dan sederhana bertingkat tiga, dekat dengan Bandara Juanda. Ya…kau tak salah! Daerah Sedati tepatnya rumah beliau. Aku mengenal Tante Nanik tak hanya di atas sebuah kereta saja. Alumni dari sebuah Universitas Negeri di Surabaya itu memang sangat murah senyum, murah nasehat, saran dan kritikannya. Saat curhat pun tak pernah malu denganku, maklumlah karena ketiga anaknya laki-laki dan jarang bisa untuk diajak mengobrol setiap harinya. Silaturrhami kami berlanjut hingga aku hendak lulus dari bangku kuliahku.
Anak pertama beliau sekolah di Sekolah Penerbangan. Yang sebetulnya keinginan beliau adalah supaya putra pertamanya itu kuliah di ITB Bandung. Dia ingin sekali anak laki-laki pertamanya itu bisa mengemban ilmu di sana. Namun, orang tua tak bisa berbuat apa jikalau itu bukan keinginan jagoan pertamanya. Yang ada di benakku, Tante Nanik bukanlah orang yang egois. Sering sekali dia ingin mendengar ceritaku tentang lelaki yang saat itu menjalin hubungan serius denganku. Ada sesuatu dari beliau yang belum pernah aku dapatkan dari Ibu kandungku sendiri yang membuatku terkadang nyaman. Entah, apa itu!
Komunikasi kami terputus saat aku harus keluar dari kota Surabaya. Mencari puing-puing rezeki berseberangan dengan kota yang banyak mengajarkan aku pengalaman hidup itu. Namun, tak urung jua Tante Nanik terkadang menyapaku duluan walau itu hanya dari SMS yang dia tinggalkan di inbox-ku. Terakhir kali kabar yang aku terima adalah disaat putra pertamanya itu sudah bertugas menjadi copilot sebuah penerbangan komersil di Indonesia. Wah, aku bisa membayangkan betapa gagahnya seorang calon pilot yang berwajah tampan dan mempunyai postur tubuh yang sangat ideal. Pastilah beliau akan sangat bangga sebagai seorang Ibu! Lagi-lagi bukan Tuhan tak adil, namun kenyataan hidup yang egois merenggut Putra Bangsa itu dalam sebuah kecelakaan pesawat yang sedang dikendalikannya. Aku tahu dari beliau yang tak sungkan mengabarkannya padaku.
Sejak kejadian itu, aku lebih sering menghubunginya. Beliau sekarang lebih sering ke Bandung untuk menengok putra keduanya yang mengemban ilmu di sana, syukurlah cita-citanya terkabul ingin memiliki anak yang lolos di Institut impiannya tersebut. Daripada harus mengenang kejadian pahit di rumah yang sudah puluhan tahun memberinya banyak kenangan dengan anak cintanya yang sulung itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Tante Nanik. Suaranya yang tak bisa pecah renyah bak krupuk seperti dahulu kala. Dia pun juga sering memintaku untuk tak sering-sering menyebut putra pertamanya itu untuk menghargai perasaannya. Alangkah lebih baik bagi beliau tak sering mendengar tentang anak yang telah terenggut nyawanya dalam sebuah tragedy pesawat. Karena sudah cukup hampir setiap hari beliau meneteskan air matanya ketika seragam kebesaran putranya itu muncul dari dalam almari tanpa sengaja ketika terbuka.
“Sebetulnya…tante sudah sangat berat melepaskan dia ketika pilihan untuk menjadi seorang pilot itu terlontar dari mulutnya…” tutur Tante Nanik padaku. “Kebanggan itu hanya berbuah sebentar bagi tante, Rie…” lanjutnya dengan isakkan tangisnya.
Aku punya suatu alasan kenapa akhir-akhir ini aku ingin sekali menjalin komunikasi dengan Tante Nanik. Karena aku ingin sekali belajar perasaan kepadanya. Apakah kau bisa menebak apa yang aku maksud dan aku rasakan tentang makna hidup dari sebuah kata ‘PILOT’? Aku tahu, mungkin ceritaku ini adalah sedikit konyol untuk didengar. Namun, banyak kejadian dalam kehidupan sahabat-sahabat terdekatku yang terkadang membuat aku banyak menangis tanpa sengaja, banyak merenung dan lebih berhati-hati dalam langkahku. Aku sangat bangga dengan kehidupanku yang banyak dianugerahi sosok-sosok yang memberiku bermacam kisah sehingga banyak pula warna yang aku dapatkan setiap aku memilih di mana ingin kupijakkan kakiku ini.
***
Sejak sepekan yang lalu, putra semata wayangku agak sedikit rewel. Entahlah, apa penyebabnya! Namun, dia selalu ingin bermain ke bandara hanya untuk melihat si burung-besi nan gagah itu. Aku rasa dengan sesekali mengajaknya menaikinya di atas awan sudah sangat membuatnya puas dan dapat menjadi resep untuk mengobati rasa penasarannya. Ternyata tak cukup seperti itu yang dia inginkan. Dalam dunia imajinasinya, dia selalu menganggap sebuah pesawat itu sebagai jelmaan ikan raksasa. Seperti ikan hiu! Terkadang lucu dalam celotehnya, namun terdengar aneh. Kenapa mesti ikan yang dia tunjuk untuk mewakili pesawat itu…
Aku berusaha untuk tak menggubris ajakkannya padaku. Namun, mimpi yang sudah mencolek aku, seakan bercerita tentang anakku kelak. Aku bermimpi dia adalah sesosok pilot yang gagah dan tampak tampan dengan seragam kebesarannya. Di dalam mimpiku itu anakku telah menjadi seorang yang dewasa dan dia berkata padaku, “Mom…thanks a lot! I’m very proud to be a pilot!” Kata-kata itu dia ucapkan dikala hendak berpamitan padaku karena tugas yang diembannya. Alarm ponsel-lah yang membangunkan aku dari mimpi yang seakan kurang puas aku menikmatinya.
Kemudian di malam kedua, mimpi itu mencolek aku kembali! Aku memimpikan hal yang sama seperti malam pertama yang berkisah tentang anak cintaku. Dan terakhir hingga malam ketiga, mimpi itu masih berlanjut dengan satu kisah yang masih sama dengan malam pertama dan kedua yang telah aku lalui. Detik itulah jantungku mulai berdebar kencang dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Fikiranku melayang ringan sehingga perasaan negative selalu meracuniku. Bergegas aku bangkit dan ingin sekali rasanya mengintip wajah putra kecilku. Dia tertidur pulas dengan mainan pesawat di samping bantalnya. Aku membelai kepalanya yang lumayan besar untuk ukuran anak usia dua tahun itu. Yang terlindungi oleh rambut tebalnya. Rasanya kurang sedikit waktu lagi, pasti kasur mungil itu tak akan cukup menampung badannya yang berbibit tinggi dan besar.
“Nak, Mama inginnya kamu jadi ilmuwan…ke mana kau ingin menuntut ilmu tak masalah…asal jangan jadi pilot…”
Aku berbisik lirih dengan air mataku yang tak kuasa aku tahan untuk tak jatuh. Apa yang ada di benakmu, jika kau menjadi seorang Ibu sepertiku? Atau seperti Tante Nanik? Aku yakin bermacam perasaan dan keyakinan selalu ada dalam hatimu! Itu sudah pasti…
Aku pun berusaha seperti itu. Karena tidak ada yang pernah kita tahu atas rencana Tuhan pada orang-orang yang kita cintai. Sejak aku kecil, Tuhan selalu memberikan kelebihan kepadaku lewat sebuah mimpi pada jam-jam tertentu dalam kehidupanku. Atas semua peristiwa yang bakal terjadi dengan orang-orang terdekatku. Dan sekarang, aku tidak bisa memilih apakah aku harus meyakini mimpi itu ataukah melupakannya saja.
Keesokan harinya, anak cintaku menyambut bangun pagiku dengan meminta beberapa baterai kecil untuk mainan pesawatnya yang sudah mogok jalan.
“Mama, kenapa pecawat dedek tak bica tebang di atas…heeeennggggggg…?” (Mama, kenapa pesawat dedek tak bisa terbang di atas…heeeeeengggggg…). Sambil tangannya bergerak mengayun ke atas dan menirukan suara mesin dari pesawat.
Aku hanya tersenyum mendengar tanyanya, “Itu ‘kan cuma mainan, dek…” jawabku.
“Tapi, Ma…walau mainan kata Mama pecawat itu ‘kan tebang…” (Tapi, Ma…walau mainan kata Mama pesawat itu ‘kan terbang…). Kejarnya padaku.
“Iya, terbang itu kalau pesawat sungguhan, dek…yang kita lihat di Bandara itu…” lanjutku kembali.
“Mama…ayo alan-alan liyat pecawat, Ma…” (Mama…ayo jalan-jalan lihat pesawat, Ma…). Ajaknya manja padaku.
“Dedek nggak takut, ya? ‘Kan gede, tuh!” sahutku.
“Nggak…dedek nggak akut…” (Nggak…dedek nggak takut…). Jawabnya lantang padaku sambil membusungkan dadanya.
Untuk kali ini mungkin aku tak masalah menurutinya berjalan-jalan ke bandara, karena janjiku sudah lama belum aku penuhi untuknya. Bandara adalah tempat favourite bagi anak cintaku. Bandara adalah tempat yang membuat anakku paling antusias dengan lambaian tangannya.
“Tuh…Mama atu pecawat cudah tebang…” (Tuh…Mama satu pesawat sudah terbang…). Sambil dia menunjuk dengan hitungan setiap pesawat yang berangkat satu demi satu. Sampai hitungan pesawat yang ke tujuh saat itu.
“Tuh…Mama, pecawatnya beyok kanan, yang tadi beyok kiyi…” (Tuh…Mama, pesawatnya belok kanan, yang tadi belok kiri…). Celetuknya tak pernah lengah dengan satu persatu pesawat pun yang seperti layang-layang sangat ramai mengudara sore itu.
Anak cintaku menarik tanganku kencang lebih mendekat agar tampak jelas dia memandang pesawat yang lepas landas. Dia meloncat, tertawa dan tak pernah melepas sudut matanya dengan pesawat-pesawat yang berjajar di sana.
“Mama…dedek mau nyetir pecawat…dedek pengen…” (Mama…dedek mau nyetir pesawat…dedek ingin…). Celetuknya padaku sambil terus memandangi pesawat yang sedang bersiap lepas landas.
“Ooohhh…’kan sudah Mama bilang, yang pegang kendali pesawat itu…apa hayooo…masak lupa!” aku mencoba mengingatkannya.
“Pailet…Mama!” (Pilot…Mama!). ‘Pailet’ aksen Inggris-nya saat mengucapkan ‘pilot’!
“Kenapa dedek ingin jadi pilot?” tanyaku sambil memandang matanya.
“Dedek pengen tebang di atas teyus, Mamaaa…heeeengggg…” (Dedek ingin terbang di atas terus, Mama…heeeenggggg…). Kembali dia menirukan gaya pesawat yang terbang bersama suara mesinnya.
Aku kembali teringat dengan mimpiku seketika itu. Dia sejak kecil sangat menyukai pesawat dan pernik tentang pesawat.
***
Kau pasti sedang menertawakan ceritaku yang terlalu khawatir! Iya…kau tak salah! Aku seorang Ibu yang sangat khawatir dengan anakku. Semua pekerjaan memang mempunyai resiko sendiri-sendiri. Dan tak ada pekerjaan yang tak bagus asal kita punya dedikasi tinggi di setiap bidang itu.
Namun, andai boleh memilih…aku tak ingin anakku ada diantara yang membuat aku cukup khawatir…
Aku teringat saat kecil Ibuku pernah bercerita padaku tentang mimpinya bahwa…
“Aku selalu memimpikanmu sangat senang bermain pensil dan buku…”
Saat aku bertanya apa maksud mimpi Ibu, beliau hanya menjawab…
“Entahlah…Ibu rasa, kelak kau akan sangat menyukai dunia tulis…dedikasimu yang seperti apa Ibu tak tahu…namun kau cukup mencintai dunia itu…apa pun kelak akan kau lakukan hanya untuk bisa menulis satu lembar cerita…”
Kata-kata Ibuku itu membuat aku teringat dengan mimpiku tentang anak cintaku. Dulu Ibuku sudah pernah mengalaminya dan sekarang giliranku untuk mengalaminya. Kami sama-sama bermimpi tentang masa depan anak kami, namun dalam bidang dan kisah yang berbeda…
***
Dalam perjalanan pulangku bersama anak cintaku, aku sangat terkejut dengan kata-katanya di lelah aktifitasnya. “Mama…I want to be a pilot! I want to be a pilot, Mamaaaa…” sambil dia memainkan pesawatnya. “If you hear me, Mamaaaa…I want to be a pilot!!!” (Kurang lebih seperti itu maksud dari ucapannya yang belum sempurna dalam aksen Inggris-nya).
Aku diam tak menjawab! Aku berusaha mengalihkan fikiranku di masa kanak-kanak. Saat aku di Sekolah Taman Kanak-kanak, semua cita-cita boleh kita pilih sesuka kita.
“Siapa yang mau jadi dokter…?”
“Siapa yang mau jadi insinyur…?”
“Siapa yang mau jadi pilot…?”
“Siapa yang mau jadi polisi…?”
“Siapa yang mau jadi tentara…?”
Pertanyaan Guru di Taman Kanak-kanak itu membuat kami muridnya menjadi orang serakah. Bahkan, kami ingin menjadi semuanya. Dengan semangat mengangkat tangan kami tinggi-tinggi sambil menegakkan telunjuk kami masing-masing. Mungkin seperti itulah dunia anak yang penuh imajinasi, bahkan sebaliknya yang terkadang justru menjadi pertanda untuk orang tua hingga kelak anak-anaknya dewasa. ‘Mau jadi apa mereka?’
Namun, kemungkinan besar memang juga akan lain di masa depan. Mudah-mudahan seperti itulah anakku, sebatas imajinasi saja dalam fikirannya yang saat ini masih jauh dari kata ‘batita’…
Dalam tidur pulasnya, dia tak lupa memeluk pesawat yang selalu dibawanya ke mana-mana dia pergi. Namun, andai kelak Tuhan menjadikan takdir anakku menjadi seorang ‘pilot’…
Kembali aku terbayang wajah Tante Nanik yang begitu keibuan. Mungkin bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas beliau dalam menerima garis hidupnya. Namun, sekali lagi rasanya akan sakit memang, jika seorang yang tercinta itu meninggal dalam keadaan tragis. Tawa yang senantiasa muncul dalam gelak saat candanya tak pernah aku dengar lagi mesti hanya lewat telephone. Sejak tragedy yang menimpa putra tercintanya itu.
Sekarang, apa yang ada di benakmu tentang anak-anakmu yang sedikit membuatmu tidak nyaman dengan cita-cita mereka? Pastilah…aku yakin kau juga akan berkeluh kesah walau dalam hatimu. Karena satu, menjadi ‘Ibu’ adalah harga mati! Harga mati untuk tetap mendukung sebesar apa resiko anak kita dengan cita-citanya, harga mati untuk tetap mendo’akan yang terbaik bagi mereka, harga mati yang terkadang berpura-pura untuk tersenyum di hadapannya padahal hati kita selalu khawatir dengan pilihannya, harga mati dari sebuah pengorbanan bahagia kita yang tersedot demi kebahagiaan mereka atas pilihan hidupnya pula…
Menjadi ‘Ibu’ selalu berhadapan dengan harga mati! Tak ada yang bisa ditawar dengan segala pengorbanan. Apa pun itu selama seorang Ibu masih bisa membuat anaknya untuk tetap bahagia, apa pun juga pasti akan dilakukannya…
“I’m proud of you love the aerospace…” bisikku lirih dalam lelap tidurnya yang membawa perjalanan kami.
Arie. P
18 Mei
“Kutahu, Kau Takkan Kunjung Kembali…!”
“Rie…kau lihat di berita?” SMS dari seorang temanku yang bekerja di perusahaan swasta milik pribadi. Sebut saja Sandi. Aku memanggilnya Mas Sandi. Pertemanan kami baru terajut selama lima tahun saat itu. Aku mengenalnya di awal masa-masa perkuliahanku. Sedikit banyak dia ikut andil dalam membimbingku di setiap tahap-tahap kehidupanku. Usia diantara kami yang terpaut jauh, yaitu sepuluh tahun membuatnya dewasa dalam berkomunikasi. Aku berkenalan tanpa sengaja dengannya lewat saudara laki-lakiku.
“Tontonlah sekarang! Buletin Siang!” lanjut SMS-nya.
Tanpa banyak tanya aku segera bergegas menyalakan televisi dan mencari channel yang aku inginkan.
Yah, pemirsa masih belum diketahui dengan pasti hilangnya pesawat Adam Air Boeing 737-400 yang diperkirakan untuk sementara jatuh di Peraian Majene…
Penggalan berita itu belum juga membuat aku mengerti maksud Mas Sandi dengan mengirimkan SMS-nya padaku.
“Sudah, mas! Aku sudah tonton. Pesawat jatuh, ‘kan maksudnya?” balas SMS-ku.
Lama pula Mas Sandi tak membalas SMS-ku, sampai satu jam. Aku mengulangi SMS-ku kembali dan menanyakan hal yang sama lagi padanya. Kekhawatiranku mulai muncul, namun Mas Sandi tidak pernah bercerita padaku dengan rencana perginya jika memang dia hendak bepergian ke luar pulau atau luar negeri. Hubungan kami memang sudah seperti saudara. Justru dia banyak membimbing aku yang saat itu sedang merajut kasih dengan seseorang yang jauh di seberang negara ini. Ya…kau betul! Hubunganku bersama kekasihku bertema ‘long distance’!
“Yuni, ada di pesawat itu, Rie! Maaf aku baru membalas, tadi aku sedang mencari kepastian informasi…” balasan SMS yang begitu membuatku terkejut. Sebut saja Yuni, salah satu penumpang pesawat naas itu.
Mbak Yuni adalah istri Mas Sandi, namun empat tahun belakangan ini hubungan mereka kurang baik. Mas Sandi yang aku lihat lebih egois terhadap pekerjaannya itulah yang membuat banyak konflik dalam rumah tangga mereka. Apalagi pada saat dia melanjutkan study-nya ke luar negeri.
Sepekan sebelum kejadian itu, pernah suatu malam Mas Sandi mengajakku makan di luar. Di Tunjungan Plaza Surabaya lantai atas. Dia yang masih memakai baju kantornya, kelihatan sedikit lelah di wajah dan fikiran yang melayang. Seperti mengingat tentang seseorang. Di situ aku seperti umpan yang tarik kanan dan tarik kiri. Yang terkadang harus berkomunikasi dengan sisi Mbak Yuni dan lebih banyak berkomunikasi dengan sisi Mas Sandi. Mbak Yuni orang yang sangat baik bagiku, dengan panggilan khasnya padaku ‘dik’ yang sangat kental sekali di lidahnya. Dia juga banyak memberikan saran dan masukan padaku tentang bagaimana aku harus menata masa depanku hasil dari pengalaman hidupnya. Dua sisi positif sekaligus aku dapatkan, mereka berdua memang orang-orang yang baik yang pernah berkunjung dalam kehidupanku.
***
“Kamu pesan apa, Rie?” sambil Mas Sandi menyodorkan menu makanan padaku. “Ayo…makan, ya? Jangan susah, deh, kamu!” lanjutnya.
“Enak aja! Nggak susah lagi…cuma males makan sama orang yang belum mandi!” ledekku dengan kesal.
“Yeee…nggak baulah! Orang gantheng…” sahutnya.
“Hahhhh…jadi orang pe-de banget, deh!” timpalku.
“Kamu nggak pernah main-main ke masmu sana?” tanya padaku masalah sepupu laki-lakiku.
“Ehmmm…nggak! Belumlah, masih males…” jawabku.
“Mainlah ke sana kau! Siapa tahu kamu dapat jodoh orang Jawa Barat! Mending, deh! Daripada di luar negeri dibela-belain…” ledekkan yang mulai meracuni otakku.
“Ogah, ahhh! Sudah, deh…ahhh…” sedikit cemberut mulai tampil di mukaku. Obrolan kami terputus ketika kami mulai memesan makanan dan minuman kesukaan kami masing-masing.
“Eh, kamu tuh…long distance tak masalah, asal sementara, sih! Jangan keterusan. Kurang bagus juga buat suasana komunikasinya…” seraya menasehatiku. “Kalau sekarang, sih, tak masalah! Asal jangan sampai keterusan di rumah tangga, non!” sambungnya.
“He’ehmmm…” jawabku singkat.
Sudahlah, daripada membahas masalahku. Sebetulnya aku lebih ingin Mas Sandi menceritakan dirinya saja. Sepertinya bakal ada sesuatu cerita yang seru yang bisa terukir sebagai pengalaman.
“Berarti, seharusnya Mas Sandi pun juga nggak wajib long distance juga sama Mbak Yuni, dong! Hayoooo…ketahuan, deh!!!” aku membalikkanya secara reflex.
“Kamu, tuh, sukanya bales-bales!” sangkal Mas Sandi.
“Iya, ‘kan? Selama ini bukannya di dunia tuh banyak teorinya daripada prakteknya, mas! Aku lebih senang prakteknya saja. ‘Kan nanti akan bisa menghasilkan suatu education karena kita yang sudah kenyang banyak pengalaman. Bukannya malah bisa menciptakan sebuah ilmu? Bukankah seperti itu?” sanggahku.
“Kamu, nih…sukanya main skak terus!” wajahnya yang mulai gusar tak karuan.
“Makanya, baik-baik lagi sana sama Mbak Yuni. Kasihan, tahu! Statusnya digantung, kalian cerai juga nggak…” sambungku.
Mas Sandi mulai tertunduk sambil memutar-mutar ponsel-nya di meja. Diam dan bisu tak merespon kata-kataku. Sampai makanan pun datang dia masih saja diam. Jadi merasa sedikit bersalah! Namun, apa yang bisa aku perbuat untuk mengingatkan sesuatu hal yang menurutku baik.
“Eh, ayooo…dimakan dulu! Nanti kita main ice skating, yuk!” hiburku sambil menunjuk ke arah bawah tempat lokasi permainan itu.
Akhirnya barulah Mas Sandi bisa tertawa sambil memainkan kepalaku seperti anak kecil.
“Yeee…akhirnya kena! Kamu takut kalau aku marah, ‘kan?” ledeknya kembali.
“Yeee…nggak!!!” sahutku dengan tertawa kami yang bersamaan.
Mas Sandi anak tunggal di dalam keluarganya. Ada kalanya walau dia seorang direktur, yang harus berpenampilan dewasa dan wibawa namun sepertinya dia masih ingin bermain-main dengan masa kecilnya. Dulu pernah mempunyai seorang kakak perempuan, tapi sudah lama tiada. Meninggal karena sakit di usia dua tahun. Sepuluh tahun kemudian barulah Mas Sandi lahir untuk mengisi hari-hari keluarga yang lama belum dikaruniai tangisan bayi kembali di tengah-tengahnya.
“Ayooo…kita adu ice skating!” ajaknya bersemangat setelah kami makan bersama.
Ada sisi terdalam dari Mas Sandi yang kurang, kurang lama bersama kedua orang tuanya dan tak pernah sempat untuk menikmati berkumpul bersama kakaknya yang dia tak pernah kenal. Terkadang, ada titik jenuh pula yang terukir di wajahnya dengan beban tanggung jawab sebuah perusahaan yang dia pegang.
“Sesekali mainlah ke kantorku, Rie…” selanya berbicara sambil memutari tubuhku beberapa kali.
“Hahhh…ngapain juga? Nggak asyik ah! Aku nggak suka suasana kantor!” jawabku mengernyitkan keningku yang terus mengikuti gerakkannya.
“Iya…ngerti, kamu paling nggak suka berbau formal. Dengan aturan kerja!” sambungnya.
“Heheheee…” aku tertawa lepas sambil mengedipkan satu mata padanya.
“Yuk, Rie! Kita berputar terus sampai ini ditutup, ya?” sambil menarik dan menggandeng tanganku dengan tubuh dan langkahnya yang lebih cepat.
Aku selalu berharap saat itu orang yang sudah seperti kakakku bisa baik-baik dengan pendamping hidupnya kembali. Entahlah, jalan apa yang nantinya akan membuat mereka berdua sadar dengan penuh arti tentang sebuah kebersamaan. Mas Sandi memang memenuhi ucapannya. Dia terus berputar hingga sepi mengambil pengunjung satu demi satu dan hanya kami yang tertinggal di sana.
“Mas, sudah yuk! Pulang…” pintaku.
“Ya sudah…capek, ya…” tanyanya sambil tersenyum melihatku.
“Mau ice cream?” tanyanya menggodaku. “Mau kentang goreng?” sambil melirik genit kepadaku.
“Kalau Mas Sandi, mau Mbak Yuniiii…” godaku balik.
Kemudian kami tertawa bersama sambil dia menjawab, “Tentulah…mau…” dan dia melanjutkan tertawanya yang renyah.
Kami melangkah pelan bersama menuju McD untuk sekedar membelikan makanan kesukaanku di sana. Aku memilih tempat paling sisi dekat kaca agar pandanganku bebas menerawang jauh menikmati Surabaya yang semakin malam semakin ramai karena berjejal-jelal dipenuhi karyawan-karyawati yang dengan cerianya karena dijemput oleh sang kekasih hati, sedangkan Mas Sandi masih memesan pesanan kami di kasir paling ujung yang tak jauh dari jangkauanku. Iya…bukan karena tak ada sebabnya! Kau pasti tahu, aku memilih tempat itu karena untuk mengobati kerinduanku akan seseorang yang sangat aku cintai sedang jauh di negeri orang. Bila dia menjengukku kemari, kami selalu menghabiskan waktu di tempat itu, di tempat yang sedang aku pilih saat itu. Kami selalu makan dengan penuh canda dan kehangatan. Kekasihku yang tak pernah lengah sedikit pun memperhatikan makanku, menunggu hingga makanan di piringku habis tak tersisa.
“Nih…” sambil Mas Sandi membawa semua pesanan kami dan menaruhnya di meja.
“Heheheee…direktur merangkap sebagai pelayan okay juga, deh!” ledekku.
Dan kami melepas dengan tawa riang penuh semangat berdua di meja yang cukup berarti bagiku saat itu. Ada kalanya bagi Mas Sandi suasana disaat kami bersama adalah segala penghiburnya. Dia seperti punya sebuah mainan merasakan ngemong seorang adik.
“Rie! Cepet habisin! Habis ini kita ke Juanda…”
“Hahhh? Ngapain?”
“Sudah! Setelah ini kamu hubungin orang rumah dulu, pulang agak malam sedikit. Hanya sedikiiiittt…” sambil canda dengan mulut penuh kentang goreng.
Fikiranku mengarah ke sesuatu. Nampaknya aku bisa menebak apa yang sedang diinginkan Mas Sandi malam itu. Aku ingat cerita Mbak Yuni satu bulan yang lalu tentang kenangan terindah yang dia rajut bersama Mas Sandi. Mereka berdua sering sekali menghabiskan saat-saat bersama mulai berpacaran bahkan setelah menikah pun di sana. Memandangi keramaian lalu lintas udara, di mana sebuah pesawat seperti menunggu giliran kapan harus menari di udara dan kapan harus mendarat. Dari bawah, mereka berdua selalu menunjuk satu persatu pesawat dan berlomba menghitungnya. Tidak hanya di situ, Mbak Yuni dan Mas Sandi selalu berdo’a untuk keselamatan banyak orang yang sedang melayang-layang menabrak awan, dan mudah-mudahan awan tidak marah sehingga mereka semua bisa mendarat kembali dengan selamat. Berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai. Mbak Yuni pun pernah berkata padaku yang terkadang membuat aku tanda tanya…
“Dik, aku selalu mendo’akan para pernumpang pesawat, betapa khawatirnya aku jika Mas Sandi sedang mengudara sampai beberapa jam di atas sana. Seakan kita pasrah dan harus siap kapan pun musibah datang. Andai kamu tahu, rasanya berpisah dengan orang yang benar-benar menjadi belahan hati kita disaat dia pergi dengan jalan yang tragis itu sangat menyakitkan. Kita tak akan kuat untuk menghapusnya…”
Aku hanya sesaat mendengarkan obrolan itu lewat telephone, namun melekatnya lama sekali sampai ujung rambutku. Habis shamphoo satu botol pun nggak akan bisa hilang kata-kata Mbak Yuni di telingaku. Sehingga membuat aku banyak menduga-duga hal di mana orang awam menyebutnya ‘firasat’!
“Kamu, tuh, kuliah yang bener! Jangan kebanyakkan nulis! Biar cepet selesai…” potong Mas Sandi membuyarkan lamunanku. “Ayooo…cepet habisin…nanti keburu malem!” sambungnya lagi.
“Ya, beneranlah kuliahnya! Sok pinter banget, deh!” jawabku dengan cemberut.
“Nggak gitu! Kamu, tuh, nulisnya dikurangin dulu! Kayak kejar setoran saja buat diterbitin di majalah…” cetusnya sambil lahap memasukkan ice cream di mulutnya yang lebar itu.
“Ahhh…nggak juga, deh! Sok tahu…” lanjutku sambil memakan ice cream dengan lahap pula.
“Canda, deh! Kamu, tuh, masih sempat-sempatnya buat tulisan tentang anak-anak hanya untuk kamu berikan di sekolah-sekolah di daerah-daerah terpencil…benar, ‘kan?” Mas Sandi menatapku focus.
“Iya…kalau temanku tak memintaku, mungkin aku tak akan melakukannya…itu hanya hanya hobby saja, nggak panteslah dikomersilkan. Kejar setoran maksudnya apa juga…?” jelasku.
“Tapi, suatu saat sepertinya kamu mesti perdalam, deh! Pengembangan tulisan kamu…” Mas Sandi memberiku saran dengan antusias.
“Oh iyaaa…”
“Eh, dengerin, dong! Belum tentu aku bisa ingetin kamu lagi…” celetuknya.
“Gimana, sih, maksudnya? Kok belum tentu bisa ingetin lagi? Ada-ada aja, deh! Udah..ahhh! Males omong yang aneh-aneh…” jawabku ketus. Saat itu aku teringat pula dengan kata-kata Mbak Yuni yang aneh-aneh. Merinding bulu kuduk seketika itu membelai tengkukku. “Yuk, ahhh! Jadi ditemenin nggak ke Juanda?” aku menarik tangan Mas Sandi hanya untuk mengalihkan kecemasanku saja akan obrolannya yang nyeletuk tak karuan!
Sepanjang perjalanan mobil aku tak bisa meramaikan suasana seperti biasanya dengan banyak canda. Jadi terngiang-ngiang dengan kata-kata Mbak Yuni, pun Mas Sandi pula. Aku terus memandangi kaca jendela mobil di samping kiriku, mendengarkan klakson-klakson yang saling berebut perhatian. Bercampur dengan alunan ‘Barry Manilow – Can’t Smile Without You…’
“Maaf, aku menyita waktumu seharian ini…” Mas Sandi mulai mengawali obrolannya padaku.
“Iya…sudahlah! Jadi orang itu tak usah gengsi, tak usah munafik…” sahutku spontan.
“Maksud kamu?” tanyanya sambil membelalakkan matanya yang bulat indah itu padaku.
“Yah…apalagi! Mas itu sebetulnya cinta banget, ‘kan…sama Mbak Yuni? Sesekali, deh, mas…luangkan waktu ngobrol sama Mbak Yuni. Empat tahun untuk menyiksa perasaan seseorang itu bukan hal yang sepele!” aku jawab apa adanya dari hatiku. Mungkin saat itulah kesempatanku berbicara pada Mas Sandi.
Entah karena obrolanku atau bagaimana, Mas Sandi langsung membawa mobilnya dengan kencang. Aku mulai cemas dan berteriak padanya.
“Mas, jangan ngebut!” sambil aku marah.
“Bukan ngebut! Tapi, biar cepat sampai!” alasan yang Mas Sandi lontarkan padaku.
Setelah sampai, dia mengajakku ke pagar batas di mana kita bisa melihat pesawat sangat dekat tanpa ada yang menghalangi. “Sini, Rie!” ajaknya padaku.
Wah, memang indah sekali melihat lampu-lampu pesawat di malam hari. Semua terlihat gagah dan cantik! Suatu kebanggaan bisa naik pesawat dengan perasaan gagah jika tanpa trauma dan takut. Seperti aku yang pernah mengalaminya. Rasanya berat untuk melangkahkan kakiku menuju tangga-tangga untuk mendatangi pintu burung besi itu kembali.
“Kenapa? Masih takut? Rie…Rie…kamu itu!” celetuknya yang enteng mendatangiku lagi kala itu.
“Mas, aku pernah mengalami suatu penyesalan…andai waktu bisa aku putar, aku tak akan masuk lubang yang kemarin sudah menyiksa perasaanku saat ini…” pandanganku terpecah jauh melihat pesawat lepas landas. “Aku tak mengerti apa yang mengganjal di hatimu. Dan kau tak usah menceritakan masalahmu padaku, mungkin kapasitasku masih kurang dibanding dirimu yang jauh lebih dewasa…” lanjutku.
“Rie…aku…aku…” Mas Sandi seperti sangat susah mengungkapkan sesuatu yang dia rasakan saat itu. Air matanya menetes di punggung tangannya. Dia tertunduk tak bisa berkata apa-apa padaku.
“Kenapa, kenapa engkau harus berlomba-lomba dengan gengsimu? Kata siapa cinta tak bisa terkalahkan oleh gengsi yang besar? Cinta bisa terkalahkan oleh gengsi, jika pelakunya adalah orang yang bodoh!!!” sambungku. “Termasuk kamu itu, mas! Orang bodoh yang sudah menyia-nyiakan waktumu!”
“Aku mencintai Yuni, Rie. Dan itu masih sama sampai saat ini! Aku membayangkan kami bisa berkumpul bersama lagi. Aku bisa lebih memperhatikan dia lagi. Selama ini, aku hanya berambisi dalam satu masalah saja, yaitu pekerjaanku!” Mas Sandi berusaha berbicara dengan setenang mungkin padaku. “Aku memang orang yang dipenuhi gengsi, Rie! Kamu benar!” keluhnya. “Tapi, aku sudah mulai bisa mengembalikan suasana hangat itu sama seperti dulu. Aku tak mengerti, seperti ada sesuatu yang berbeda dalam diri Yuni setelah empat tahun kami tak melewati waktu bersama…” ucapnya.
“Maksudnya?” tanyaku heran.
“Dia tak lagi hangat memanjakan dan memperhatikanku seperti dulu, Rie! Padahal aku berusaha mengingatkannya kembali tentang kebiasaan-kebiasaan kami…” tetesan air matanya kembali menetes hingga jatuh dari dagunya. “Bila aku protes dengan sikapnya, dia selalu bilang bahwa aku harus mulai membenahi kebiasaan burukku sendiri tanpa peringatan darinya…mungkin cintanya sudah berkurang padaku…” lanjutnya.
Seketika itu rasa kepekaan naluriku menuntunku kembali pada obrolan Mbak Yuni padaku yang aku anggap sebagai firasat. “Cobalah, kejar dia kembali, mas! Aku ingin Mas Sandi membuat Mbak Yuni terharu sampai Mbak Yuni bisa menghargai perjuanganmu untuk mempertahankan dirinya…” saranku.
“Iya…memang aku akan mencobanya terus! Akhir-akhir ini, aku lebih mengatur pekerjaanku agar teratur. Aku ingin meluangkan waktu untuk kami bisa berkomunikasi setiap hari denganya. Mungkin Yuni pun masih butuh waktu untuk bisa berkumpul denganku kembali setelah aku melukainya…” Mas Sandi sepertinya sudah mempersiapkan segala kemungkinan dalam perjuangannya merebut cinta Mbak Yuni.
“Aku ikut senang!” sambil aku melingkarkan tanganku di bahunya.
“Terima kasih, kamu mau menemani aku melepas rinduku di sini. Dulu Yuni selalu bilang kepadaku untuk mendo’akan setiap penumpang yang lepas landas. Dengan harapan agar anak cucunya pun kelak selalu diberi keselamatan…” Aku membalasnya dengan senyuman…
***
Kebahahagiaanku dengan kabar itu membuat aku tak perlu cemas lagi dengan keduanya. Aku lebih memilih meluangkan waktu untuk diriku sendiri dalam mempererat ikatan batinku bersama kekasihku. Dan sampai detik SMS yang masuk di inbox ponsel-ku dari Mas Sandi adalah tamu yang menjadi kabar buruk bagiku. Kabar tentang Mbak Yuni yang ikut dalam pesawat itu.
Adam Air Penerbangan KI-574. Penerbangan domestik Surabaya yang menuju ke Manado. Pesawat yang sebelumnya transit di Jakarta itu baru ditemukan sebab kecelakaannya pada 25 Maret 2007. Yang sebelumnya, kecelakaan telah terjadi pada tanggal 1 Januari 2007. Tak ada satu pun penumpang yang ditemukan dalam keadaan hidup atau mati, yang mungkin mengapung di lautan atau mungkin terdampar di pantai. 96 orang penumpang dan 6 awak pesawat tak ada petunjuk akan jasadnya. Semua lenyap tersedot beribu-ribu kilometer di dasar laut. Seolah di sana menjadi kuburan mereka.
Berbulan-bulan Mas Sandi menjadi sosok yang pemurung dan tak ada lagi semangat seperti dulu. Beberapa kali aku menghubunginya tak pernah lagi diangkat. Apalagi SMS-ku yang seakan hanya menjadi sampah-sampah yang tak berarti di inbox-nya mungkin. Sampai suatu saat adikku yang mengantarkan aku ke rumahnya. Rumah di daerah Pakuwon Surabaya, di mana perumahan yang terkenal elite itu berjajar-jajar rapi dengan penjagaan yang ketat. Hanya pembantunya yang membukakan pintu pagar rumah, dan sama sekali tidak mempersilahkanku masuk, karena memang dia bilang Mas Sandi tak ada di rumah. Namun, kenapa hatiku mengatakan bahwa Mas Sandi ada di dalam. Adikku pun bilang padaku bahwa ada sosok laki-laki yang lama sekali mengintip aku dari tirai kamar saat aku lumayan lama mengobrol dengan pembantu rumahnya.
“Aku mengerti kau tak mau menemuiku, padahal aku jauh-jauh datang kemari!” SMS-ku seketika itu pada Mas Sandi.
Ya…betul sekali! Setelah aku masuk mobil dan melajukannya, ada sosok laki-laki yang aku yakin itu adalah postur Mas Sandi. Dia lama membuka tirai itu setelah aku mengirimkan pesan padanya.
Sampai keesokan harinya dia mengirimkan pesan padaku. Dia akan menjemputku seperti biasanya setelah jam tujuh malam. Perasaanku sedikit lega setelah satu bulan dia bungkam tak ada kabar. Sedangkan aku selalu mengikuti kabar-kabar terbaru di televisi tentang penemuan puing-puing pesawat yang hanya sedikit sekali mengapung di lautan.
“Rie…” sambil membukakan pintu mobil untukku.
“Iya…” jawabku singkat.
“Aku ingin main ice skating lagi denganmu!” ajaknya tanpa basa basi.
“Boleh!” jawabku ceria untuk menghiburnya.
Seperti biasanya, untuk menghilangkan segala gundah di hatinya, dia menggandengku dan mengajakku berkeliling beberapa kali lingkaran besar hingga pengunjung satu per satu meninggalkan lokasi yang bagiku lapangan es itu. Selama di mobil pun Mas Sandi tak berucap sepatah kata pun padaku. Aku menghargai perasaannya yang sedang kehilangan seseorang. Sedih pula aku merasakannya karena aku pun pernah dekat dengan istri tercintanya itu.
Dengan rute yang sama, setelahnya dia puas melampiaskan kesedihannya dengan ice skating, Juanda adalah urutan kedua untuk dikejarnya. Kami berada di tempat yang sama seperti sebelumnya saat dia mengajakku. Pesawat seolah pandangan yang kosong baginya. Dia tetap diam tak mengatakan apa pun. Aku masih menunggu sampai dia bisa mengatakan sesuatu kepadaku. Dan akhirnya harapanku terkabul.
“Kalau tak mau bercerita keluh kesahmu, ya sudah! Tapi, kalau pun kau mau berbagi perasaanmu, aku tak akan menjawabnya, karena saat ini adalah aku hanya akan mendengarkanmu saja!”
“Rie, ini kesalahan terbesarku. Aku menyesal…” kembali air matanya mengalir.
“Kau ingin tahu percakapan terakhir kami? Kau ingin tahu bagaimana rasanya aku seperti hidup kembali?” tanyanya dengan mengebu-nggebu padaku.
“Kalau kau bersedia menunjukkannya, aku akan menghargainya…” jawabku dengan penuh keyakinan.
“Ini, Rie…ini!!! Ini…bacalah semuanya…ini untukmu, bacalah semuanya!” dia menyodorkan ponsel-nya yang berisi percakapan saat beberapa jam sebelum Mbak Yuni lenyap di dasar laut.
Kau…apakah kau juga ingin membacanya, kawan? Sebuah pesan yang membuatku menangis dan menggetarkan hatiku…
Suamiku, aku senang ternyata kau masih menginginkanku. Aku salah selama ini sudah menelantarkanmu. Maaf, di hadapanmu aku banyak kurang-kurang yang engkau masih menutupinya agar aku menganggap sempurna diriku sendiri. Agar aku percaya diri dengan diriku sendiri. Aku masih menganggap kau sebagai suamiku tak berkurang rasa, segan, dan simpatiku padamu.
Aku senang kau mengajakku berkumpul kembali. Ini adalah kebahagiaan yang tak terkira bagiku. Aku seperti jatuh cinta disaat muda, aku ingat saat kau menembakku di kampus untuk menjadi kekasihmu. Kau tak perlu takut aku melupakan itu, aku masih mengingatnya.
Jika memang Tuhan mengijinkan kita berkumpul kembali, pastilah nanti kita akan menikmatinya bertiga. Kau belum pernah melihat putri kecilmu, bukan? Dia sangat cantik mirip sepertimu. Maaf, saat itu aku tak mengabarkannya padamu dan menutup kabar ini hingga aku berjuang melahirkan anakmu. Karena egoismu yang tak pernah memikirkan diriku, sehingga aku memilih jalan ini. Sekarang kau pasti sudah mengerti kenapa aku tak bisa berkumpul sekarang denganmu, karena aku harus menjemput putrimu dulu di Manado untuk aku ajak menemui Papanya di Surabaya nanti. Terima kasih, ini adalah hadiah terindah buat kami berdua yang tak pernah kami sangka. Aku pamit ke Manado dulu. Aku senang kau mengucapkan kata cinta lagi untukku.
Doa’akan kami cepat kembali ke Surabaya. Aku tak sabar ingin memasak untukmu lagi, memakaikan dasimu lagi, memakaikan sepatu untukmu lagi, dan semua yang kau butuhkan. Beri aku waktu untuk menata hatiku. -Mama-
Aku mengusap air mataku dengan serabutan seadanya. Aku kembalikan ponsel itu dan aku memandang jauh di depan pesawat yang akan lepas landas.
“Sekarang, kau tak perlu menyesali segalanya! Kau harus semangat untuk anakmu. Jemputlah dia!” saranku untuk Mas Sandi.
“Rie, aku bahkan tak tahu kala dia sedang mengandung anakku. Dia berjuang menghidupi dirinya sendiri di sana…” sambungnya. “Orang tuanya juga menyembunyikan ini dariku. Tapi, aku lega! Kemarin aku sudah terhubung dengan anakku, namanya Tania, Rie! Dia lucu dan menggemaskan…” lanjutnya padaku.
“Ohhh, benarkah? Terkejutkah dia?” antusias aku menjawabnya.
“Sepertinya tidak, karena Yuni sudah mengaturnya. Yuni selalu mengatakan padanya bahwa aku mencari duit untuk membelikannya baju-baju yang cantik. Tania percaya…” Mas Sandi kembali meneteskan air matanya. “Oh iya, aku sekalian mau bilang…lusa aku akan menjemputnya ke Manado. Do’akan aku selamat dengan anakku. Kau pun mudah-mudahan bisa menggapai mimpimu! Mungkin aku agak lama di sana, sekalian liburan, Rie!”
“Bagus, salam untuk Tania, ya?” aku pun tak terasa ikut menangis.
“Iya, dia berusia dua tahun minggu depan, mungkin aku hanya ingin meluangkan waktu untuknya. Aku tak mau mengulangi kesalahanku seperti aku memperlakukan Yuni…” sambil mengusap air matanya.
“Yah…aku mendukungmu!” sambil aku menepuk pundaknya.
“Suatu saat nanti, aku pasti akan membutuhkanmu untuk membuatkan cerita-cerita untuk Tania yang tak ada di toko buku…” Mas Sandi sudah mulai tersenyum padaku. Dan aku membalasnya dengan senyuman pula untuknya.
“Pasti…!” jawabku.
***
Itu adalah pertemuanku yang terakhir secara fisik dengan Mas Sandi. Menurut kabar dari saudaraku, Mas Sandi sampai sekarang pun tak memutuskan untuk mencari pengganti Mbak Yuni. Dia merawat Tania sendiri yang kadang kala dibantu oleh Ibu mertuanya sendiri. Mudah-mudahan suatu saat nanti, Tuhan masih mempertemukan kami kembali. Mungkin banyak sekali cerita-cerita yang sudah kami lalui bersama saat dulu. Yang telah menjadi semangat bagi kami dalam menjalani kehidupan ini.
Terima kasih, Mas Sandi. Beliau yang selalu memberikan saya semangat untuk terus menulis tanpa saya harus melupakan tugas pokok saya. Mas Sandi pun terakhir mengungkapkan ke saya bahwa, “Rie…bukan aku putus asa. Namun, aku tahu…Yuni tak akan kunjung kembali…”
Antara percaya dan tak percaya, orang bilang 40 hari sebelum meninggal adalah tempat pertanda bagi sang raga yang akan tercabut rohnya. Namun, aku memilih mempercayainya dengan kata-kata Mbak Yuni padaku yang membuatku merinding! Bagiku, itu sebuah firasat yang seketika muncul dari dalam hatiku. Semua hal ghaib, terkadang manusia sulit untuk menebaknya. Karena ghaib, tetaplah menjadi misteri setiap detik kita ke depan. Dan Mbak Yuni memang benar, bahwa kehilangan seseorang yang menjadi belahan hati kita secara tragis rasanya akan sangat menyakitkan! Mungkin itu yang sedang dialami oleh Mas Sandi.
Arie. P
17 Mei
Aku Mencintai Kupu-kupu!
Apa yang ada di benakmu tentang sebuah kupu-kupu? Aku ingin tahu, apakah kau punya lebih dari sebuah imajinasi tentang sebuah kupu-kupu? Dan apa yang kau sukai dari sebuah kupu-kupu?
Kau pasti heran jika aku memelihara sebuah kupu-kupu! Tak biasanya seperti orang-orang yang lebih menyukai memelihara kucing, burung mahal, ular, anjing, ayam atau mungkin binatang-binatang yang mempunyai daya tahan hidup lama.
Sebetulnya dulu aku sangat mencintai kunang-kunang! Aku ingat sekali sebelum aku memasuki Taman Kanak-kanak, pertama kalinya aku mengenal apa itu kunang-kunang. Ibuku, beliau yang memberitahuku apa nama binatang kecil, lincah dan bersayap itu! Ternyata Ibuku juga sangat mencintai kunang-kunang. Dulu sewaktu beliau masih kecil, sering ke sawah hanya untuk mengumpulkan kunang-kunang dan dibawanya pulang untuk ditaruh di kamar. Katanya sebagai pengganti lampu, hehehe!
Kunang-kunang itu, dia sering datang disaat aku sendirian di rumah karena orang tuaku sering pergi jauh ke luar kota. Aku dititipkan pada pamanku yang saat itu masih kuliah. Pertama kali yang ada di otakku adalah seperti anak bodoh yang banyak tanya karena ingin tahu! Ada saja binatang yang kecil, bisa terbang, berbentuk seperti lebah tapi pantatnya bisa menyala terang! Kunang-kunang hanya sering muncul disaat aku masih kecil. Hampir setiap malam aku bertemu dengannya. Terakhir kali aku bertemu kunang-kunang disaat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Entah, kenapa sekarang aku tak pernah menemuinya lagi. Walau sesekali waktu aku menyempatkan diri bermain ke sawah dan keluar di taman malam hari namun tak kunjung dia kembali menemuiku.
Kunang-kunang tetaplah binatang kecil kesayanganku yang nomer satu! Dan binatang kecil penuh misteri bagiku…
Ada suatu kisah disaat aku sering bertemu kunang-kunang! Pamanku! Ya…dia selalu sibuk sendiri di meja belajarnya. Aku lihat dia selalu membaca buku, tapi sesekali pandangannya melirik ke arah kotak korek api. Dan ada satu kotak lebih besar lagi yang terbuat dari kayu tripleks. Aku sering mengintipnya dari balik pintu karena penasaranku yang teramat sangat. Apa isi kotak itu! Aku menyelusup pelan-pelan melangkahkan kakiku memasuki kamarnya dan langsung aku duduk di kasurnya. Aku selalu membawa buku matematikaku, karena hanya paman satu-satunya orang yang bisa membantuku mengerjakan kesulitan tugas-tugas rumahku. Atau istilahnya PR! Hehehe…
Aku paling takut sama paman, kalau sampai ada yang menyentuh barangnya dia pasti akan marah. Jadi, aku perhatikan saja gerak-geriknya. Nah, ini waktu yang aku tunggu-tunggu! Dia mulai mengambil kotak-kotak itu setelah menutup bukunya. Lalu mengambil bulu kemucing di tempat alat-alat tulisnya. Aku mulai mendekat dan ingin tahu sekali apa yang ada dalam kotak itu.
“Krikkk…krikkk…krik krikkk…krik krik krikkk…” Yah, aku mengenal suara itu. Sering ada saat malam hari di sawah, apalagi jika sehabis hujan. Hehehe! Itu jangkrik…teman duet di kodok yang setia dengan suaranya yang ‘kung…kung kung kunggg’ hahaha…
“Paman, itu ‘kan jangkrik, ya?” sambil aku bertanya riang.
“Iya…” jawab pamanku singkat tak memandangku.
Pamanku memang seperti itu. Entah, kenapa dia selalu acuh tak acuh padaku. Walau mau membantuku mengerjakan tugas-tugasku seolah hanya setengah hati. Hanya terpaksa saja karena pesan dari Bapakku untuk menjagaku. Dia lebih memilih bermain dan berkumpul bersama teman-temannya yang lain dan jarang menemaniku di rumah.
Aku memilih keluar saja dari kamarnya saat itu dengan langkah kaki lunglai dan buku yang masih penuh dengan jawaban-jawaban kosong. Dan tiba-tiba…
“Hai…kamu mau kemana? Sini! Coba main sama jangkrik saja, bunyinya bagus!” mengejutkan sekali, betapa riangnya aku. Jarang sekali paman mengajakku bermain. “Pakai ini, ya? Gelitikkin di sininya, nanti pasti bunyi!” sambil memberikan bulu kemucing padaku dan memberiku contoh cara menggoda si jangkrik yang genit di bagian kepalanya…hehehe…
Ternyata, kotak korek api itu berisi jangkrik kecil. Dan kotak tripleks itu berisi jangkrik yang lebih besar. Dan kesemua kotak-kotak itu sudah diberi lubang-lubang agar si jangrik tak mati dan bisa bernafas. Aku sedikit riang dan bisa tertawa cekikikan melihat lucunya gerak-gerik jangkrik.
“Kamu ingin paman carikan kunang-kunang?” tanya pamanku tiba-tiba.
“Ehmmm…mau, paman! Tangkap buat aku, ya!” teriakku semakin girang hingga lupa dengan tugas-tugas rumahku yang berjumlah sepuluh soal itu.
“Bentar, paman carikan di luar rumah, pasti ada…” sambungnya.
Pamanku benar! Memang dia mendapatkannya dari luar rumah. Kemudian ditaruhnya dalam kotak mika yang telah diberi lubang udara kecil-kecil.
“Adanya cuma satu tadi! Kunang-kunang jarang ada banyak!” kata pamanku.
“He’ehmmm…nggak apa…” jawabku dengan tersenyum.
Begitu aku melihat kunang-kunang aku lupa dengan si jangkrik. Aku segera menutup kotak si jangkrik dan langsung keluar dari kamar pamanku berganti membawa kunang-kunangku. Untuk kali ini aku lalai dengan semua tugas-tugas rumahku karena begitu asyiknya aku bermain dengan kunang-kunang. Masih juga bertanya, bagaimana bisa makhluk kecil itu menghasilkan cahaya dalam tubuhnya, ya? Dan seakan tak lelah berkedip-kedip dengan warna khasnya yang berwarna kuning kehijau mudaan.
Aku tanpa lelah memandangnya, namun lama-lama cahaya yang berkedip itu mulai redup, redup dan semakin redup. Aku berlari ke pamanku. “Paman, kunang-kunangnya mati!” sambil aku menunjukkan kunang-kunangku.
“Oh, itu nggak mati. Memang seperti itu. Lama-lama juga redup…” kata pamanku tanpa menjelaskan sebabnya kenapa.
“Sudah, main kunang-kunangnya sebentar saja! Lepaskan lagi ke udara, nanti kasihan kalau sampai mati…” perintah pamanku. “Besok kita cari lagi…” lanjutnya.
Aku keluar kamar pamanku dengan muka tertekuk karena harus melepaskan kunang-kunang itu. Aku lepaskan di halaman depan rumahku. Yang membuatku aneh, kenapa setelah aku melepasnya kedipnya lambat laun malah semakin terang dan tak redup lagi.
“Tuh, sudah nggak redup lagi, kan?” tiba-tiba pamanku mengejutkan aku dari belakangku. “Dia itu ingin bebas! Bukan jenis binatang peliharaan yang bisa dikurung seperti binatang-binatang peliharaan rumah lainnya…” sambung pamanku.
Dalam diam, aku berusaha mengerti. Bahwa dia ingin bebas terbang! Pamanku segera mengajakku masuk ke dalam rumah dan segera menyuruhku tidur, rutinitas biasa di mana pagi-pagi aku harus beraktifitas dalam sekolahku. Lagi-lagi aku ingat dengan tugas rumahku yang masih tergeletak. Ahhh…malas sedang datang menggodaku. Aku berencana mengerjakan tugas itu besok pagi-pagi saja karena mataku ingin segera terpejam rapat. Hanya suara kendaraan yang lewat di depan rumahku yang masih mengisi pendengaranku. Mataku masih berkedip-kedip sayu memandang lampu pijar tepat di atas kepalaku. Sambil terus membayangkan kunang-kunang itu!
Tak terasa esok pagi jadwal berangkat sekolahku jadi berantakan hanya karena terburu mengerjakan tugas-tugas rumahku yang serba mendadak. Hanya gara-gara ‘kunang-kunang’! Setelah kejadian aku bertemu dengan kunang-kunang. Aku selalu tak tidur siang dan memilih menyelesaikan tugas-tugas rumahku di sore hari. Agar malamnya aku bisa bermain dengan kunang-kunang lagi. Atau paling tidak aku bisa bermain dengan jangkrik-jangkrik pamanku. Tidak salah! Kali ini aku dapat kunang-kunang lagi. Tapi, pamanku tak menangkapnya dari luar rumah. Kunang-kunang itu menghampiriku, masuk ke kamar pamanku lewat jendela yang selalu terbuka lebar agar udara bisa bersirkulasi, dia berkeliling di atas kepalaku. Aku tak tahu apakah dia kunang-kunang yang kemarin bermain bersamaku? Ataukah kunang-kunang yang lain? Yang membuat aku senang saat itu karena tanpa aku mencarinya dia sesuka-sukanya mendatangi aku. Kau pasti bisa membayangkan betapa bahagianya aku yang saat itu yang masih berusia tujuh tahun.
Masaku bermain dengan kunang-kunang hanya sesaat saja. Sekarang mereka semua pergi entah berpindah kemana sejak sawah-sawah di sekeliling rumahku berubah menjadi perumahan-perumahan elite. Aku sudah tak pernah menemuinya lagi di rumahku.
***
Sampai suatu ketika disaat aku sedih, kupu-kupulah yang selalu mendatangiku. Aku sangat tertarik dengannya. Jarang sekali aku menemui kupu-kupu dengan sayap polosnya. Namun, hanya kupu-kupu dengan sayap-sayap terindah berhiaskan warna lucu nan apiklah yang selalu mendatangiku. Walau dia tak berumur panjang, namun selalu berganti-ganti lagi yang menyambangiku.
Aku tak mengerti kenapa harus ‘kupu-kupu’!
Dan di usiaku yang semakin dewasa, dia senantiasa selalu tetap bersamaku. Kadang singgah di gubukku hingga beberapa hari, hingga badannya lemas karena tak makan. Karena itulah aku sering menyediakan bunga hidup yang aku taruh di pot berisi air untuk tempat bersinggahnya. Andai aku mengerti selera makannya! Pasti dengan gampang aku mencarikannya. Aku ingin dia terbang bebas di luar! Seperti pesan pamanku sewaktu aku masih kecil. Bahwa binatang kecil bersayap butuh kebebasan untuk kesegaran tubuhnya. Aku sangat mencintai kupu-kupu karena metamorfosisnya yang unik bagiku. Yah, mungkin itu yang ada di benakku! Entah, menurut kau apa!
Karena bagiku kupu-kupu selalu penuh kejutan! Tak ada yang bisa menebak bagaimana bentuk dan warna-warni sayapnya yang indah itu setelah kepompongnya pecah, bukan? Yang selalu aku tunggu-tunggu adalah proses terakhir setelah keluar dari kepompongnya itu, dia melebarkan sayapnya dan memamerkan kecantikan warnanya. Aku berfikir, pasti sang kupu-kupu pun selalu berdo’a pada Tuhan dalam pertapaannya yang panjang disaat melalui fase kepompong. Dia tak putus berdo’a untuk diberikan warna-warna terindah dari Tuhan. Agar banyak memberikan ketertarikkan padanya. Terkadang, jasanya hanya sesaat saja digunakannya untuk membantu penyerbukan bunga-bunga yang genit yang berharap dihinggapinya. Itu tak mudah bagi bunga juga untuk menarik sang kupu-kupu! Dia juga selalu memohon pada Tuhan supaya diberikan warna-warna kelopak terindahnya agar bisa menarik sang kupu dalam membantu prosesnya memperbanyak bibit-bibit bunga baru, selain melalui lebah dan angin.
Disaat menjadi kepompong, dia menutup semua inderanya. Telinganya, matanya, bahkan badannya yang senantiasa terbungkus rapat dan hangat di dalam sana. Dia hanya sebuah ulat biasa yang terkadang berwujud jelek dan sangat menjijikkan…
Mungkin, aku bisa menjadikan kupu-kupu adalah penyemangat dalam hidupku. Prosesnya untuk menjadi indah dan bisa bebas meraih asa di angkasa raya. Setahap-setahap dengan tenang, namun indah di akhirnya.
Untuk menjadikan diri kita tampak indah, ada kalanya kita harus menutup kelima indera kita. Kita balut tubuh kita dengan kehangatan do’a pada Tuhan dengan khusyuk. Tak ada salahnya kita menjauhkan diri dari segala keramaian untuk mempertahankan proses dalam meraih impian-impian kita. Selalu menjadi akhir yang indah membutuhkan tahapan-tahapan dan kedekatan dengan Tuhan tanpa terusik oleh siapa pun. Siapa yang tak ingin menjadi indah dalam hal apa pun? Aku yakin kau pasti pun menginginkannya pula. Tapi ingat, waktu tak bisa kau kejar untuk menjadikan segala sesuatu dengan indah secara cepat menurut ukuranmu. Menjalani metamorfosis yang sempurna melalui setahap-setahap fase dengan lengkap itulah yang harus mampu dengan sabar kau jalani.
Sekarang, aku jadi bisa berimajinasi andai aku ingin menjadi kunang-kunang! Bagaimana menurutmu?
Tak punya bentuk yang indah! Aku hanya tertarik dengan cahaya yang senantiasa berkedip-kedip dengan sukarela itu. Aku masih berharap dia mendatangiku lagi agar aku bisa belajar tentang proses hidupnya yang senantiasa memberikan cahaya yang tanpa surut sampai usianya rapuh.
Arie. P
15 Mei
-JOGLO-
Wonogiri, 2012.
Melintasi jalan yang cantik nan indah dengan lemah gemulainya, naik-turun, berkelok-kelok, sawah, sendang, gunung, tebing, jurang dan sungai. Semuanya serba terasa ‘wah’ bagi anak cintaku. Ini kali pertama dia menyusuri perjalanan desa. Tak sedikit pun dia meletakkan pantatnya di jok mobil yang lumayan empuk, setelah bergegas bangun dari tidur pulasnya. Tadi, begitu kaca jendela mobil terbuka lebar, angin sejuk membelai telapak kaki dan pipinya yang seolah-olah menggelitiknya untuk cepat terbangun menyaksikan sahabat terindah dari alam eyang kakungnya di masa lampau.
“Tuh…tuh Mama…tuh apa, Mamaaa…?” begitu riangnya sambil menunjuk dengan serakah ke segala arah seakan semua ilmu harus dia dapat.
“Mama…tuh apa…kalau itu apa, Ma! Yang itu, Maaa…itu apa, Maaa…tuh Ma apikkkk!!!” apa pun keriangan yang terlontar dari celetuk-celetuk lucunya mengisyaratkan bahwa perjalanan kali ini adalah hadiah terindah untuknya.
“Mama, belum campek?” (Mama, belum sampai?) tanyanya padaku.
“Belum, nak! Tuh, di depan! Sebentar lagi sampai…” jawabku ringan.
“Campek di umah kung?” (Sampai di rumah eyang kakung?) tanya yang semakin beragam.
“Iya…dong! Mau kenal nggak?” tanyaku memancing.
“Mauuuuuu, Mamaaa!” jawabnya sambil bertepuk tangan riang.
Penantian dalam lelah yang panjang selama enam jam dari Surabaya berakhir sudah. Kami sekeluarga sudah sampai di kediaman di mana 60 tahun yang lalu Bapakku dilahirkan di sana. Perjuangan yang dimulai di sana! Dan mendapatkan pola asuh yang baik pula di sana! Di sana aku menunjuknya! Apakah kau tahu aku menunjuk apa? Apakah kau mengerti maksudku?
Ya! Ujung atap yang berbentuk seperti trapezium bila dipandang dari depan, begitulah ciri khas rumah joglo yang akan banyak kau jumpai di pedesaan. Terlihat tampak kokoh karena penyangga yang terbuat dari kayu jati dengan usia ratusan tahun. Dan ciri khas itulah yang selalu membuatku rindu untuk datang mengenang sejarah Bapakku. Kalau jaman kuno dulu, bisa membuat rumah seperti itu saja sudah gagah dilihat. Hanya ada satu pintu, yang tepat di tengah-tengah sisi depan rumah, dan dua jendela yang berada di samping kiri-kanannya. Jika orang yang melewatinya tinggi, siap-siap kejedot saja batok kepalanya. Karena biasanya pintunya tak begitu tinggi. Hehehe…
Ruangan yang serba luas sampai ke belakang (dapur, kalau orang jaman dulu mungkin bilangnya pawon). Terkadang antar ruangan satu dengan lainnya tidak ada satu sekat pun yang merupakan salah satu ciri pula dari sekian banyaknya rumah-rumah joglo di Jawa. Kau baru menemui pintu kedua disaat mau memasuki dapur dan terakhir pintu ketiga biasanya akhir dari sebuah batas rumah. Selebihnya itu ada kebun luas yang dipenuhi Tectona Grandis, Bambusa Arundiacea, Agathis Lalillardieri, Durio Zibethius, Persea Americana, Artocarpus Communis, Pithecollobium Jiringa, Cocos Nucifera, Parkia Speciosa, Magnifera Indica, Musa Accuminate, Spondias Dulcis dan masih banyak lagi. Jauh sekali dengan rumah jaman sekarang, ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang privacy pula, dll. Di desa ruang tamu selalu jadi satu dengan ruang keluarga. Konon, kata nenekku untuk membuka rezeki dan supaya tidak ada batas bila orang lain atau tamu ingin berkunjung ke rumah. Maksudnya, siapa pun yang sudah menghargai dan menghormati mau berkunjung ke rumah, maka akan dianggap seperti saudara sendiri. Bercengkerama di satu ruangan depan.
Oh iya, orang jaman dulu menyebutnya pawon karena mempunyai ciri khas tumpukkan batu bata yang ditambal dengan semen menyerupai kompor. Berbentuk kotak, di mana ada lubang di bagian atas untuk memasak dan lubang di sisi samping bawah yang biasanya untuk memasukkan kayu sebagai bahan bakarnya. Atau kadang ada beberapa pula yang terbuat dari tanah liat. Tentulah, harus rajin mencari ranting-ranting pohon yang kering untuk bisa digunakan. Inilah satu-satunya yang diandalkan Ibu-ibu di pedesaan untuk memasak dan tetap menjalankan kebutuhan hidupnya. Dan banyak berjajar beberapa kamar pula di ruang paling depan ini, yang disebut ruangan keluarga tadi. Di tiap kamar bukanlah kasur empuk yang bisa kau temui seperti di rumah-rumah modern-mu sekarang bila hidupmu berkecukupan. Namun, cukup alas tikar (kloso) yang langsung digelar di bawah. Aku bilang di bawah karena tak ada lantai. Tidak seperti rumah jaman sekarang yang pasti punya lantai berhiaskan dari keramik atau marmer bagi yang kaya. Namun, tidak di rumah Bapakku ini! Semua beralaskan tanah merah kecokelatan yang berbau lembab. Kalau orang dulu menyebutnya berlantaikan bumi. Begitulah…
Tirai rumahmu mungkin lebih indah dan enak dipandang. Akan tetapi tidak dengan jaman Bapakku dulu! Pakai tirai dari kain jarik saja sudah sangat bagus untuk ukuran desa, hehehe. Ya…kau benar! Sebagai pengganti pintu! Sedangkan jamban dan kamar mandi pasti akan selalu terpisah jauh di belakang rumah. Kalau boleh aku bilang, mungkin terlalu bagus bila aku menyebutnya kamar mandi. Karena tak membentuk ruangan! Hanya sekat dari bambu (sesek kalau orang Jawa bilang) yang berkeliling menyerupai bentuk persegi dan tanpa atap pula, hehehe. Jadi, bersiap-siaplah pasang wajah was-was karena bakalan ada perjaka yang hendak mengintipmu dari atas pohon sana…hahahaaa…! Atau mungkin sebaliknya, akan ada perawan desa yang cantik jelita sedang lewat berjalan dan bakal melirikmu…hahaha….! Mungkin itu yang bisa aku gambarkan. Jadi jika kau berdiri tegak, batas yang tertutup adalah mulai bagian dada ke bawah. Begitu pun dengan jamban yang ada, semua sama-sama terbuka bebas! Di lingkungan desa sudah sangat terbiasa dengan pemandangan yang seperti itu.
Ada yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu dan saat ini. Kalau sekarang di sekeliling rumah Bapakku sudah banyak joglo yang bervariasi, banyak yang sudah merubahnya dengan dinding yang bercat nan warna-warni, bersanding dengan pintu gebyok nan gagah. Sudah tak terbuat dari bambu (sesek) lagi, bahkan ada yang terbuat dari tripleks! Sebetulnya ini rumah si mbahku, namun karena Bapakku sejak lahir sampai tumbuh dewasa pun di sini maka aku terbiasa bilang ini gubuk Bapakku, hehehe! Biasanya kalau di desa sebagai perlambang kesuksesan anak-anaknya di kota sehingga mampu membangunkan rumah bagi orang tuanya di kampung. Hanya gubuk Bapakku yang bertahan dengan bambu-bambu kesayangannya. Itu pun peninggalan dari mbah kakungku! Yang tak pernah mau jika rumah peyotnya itu direnovasi dengan alasan untuk mempertahankan keasliannya. Kalau pun anaknya menyukai silahkan ditempati, kalau pun kurang menyukai maka biarkanlah saja seperti itu apa adanya! Jalannya pun sekarang sudah jauh lebih baik daripada dulu kala yang masih pure tanah. Kalau sekarang sudah makadam dan sebagian untuk jalan kecil utama sudah beraspal. Listrik, cahaya lampu pun sudah di mana-mana. Kalau Bapakku dulu masih pakai lampu dari minyak tanah itu (ublik). Mbah kakung dan mbah putri sudah sama-sama meninggalkan kami semua. Mbah kakung, belum pernah aku mengenalnya karena beliau kembali ke pangkuan-Nya lebih kurang 35 tahun yang lalu. Sedangkan mbah putri menyusul lebih kurang 13 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kuliah.
Aku tak bisa menggambarkan mbah kakungku seperti apa karena aku memang tak pernah menyaksikannya. Namun, beliau selalu mendapatkan banyak pujian dari Bapakku, bila Bapakku sedang bercerita pada anak-anaknya. Mungkin jika beliau masih ada, aku akan menjadi cucu yang paling beruntung. Karena aku akan menjadi orang yang paling kaya akan cerita-cerita sejarah yang beliau alami, saksi hidup perjuangan, peperangan dan siksaan-siksaan penjajah jaman dulu. Karena beliau merupakan salah satu orang yang selalu dicari-cari oleh Belanda karena pengaruhnya yang besar tentang kemerdekaan Indonesia. Hingga jari-jari tangannya cacat karena disiksa oleh Belanda, dengan cara dipukuli senapan sampai hancur. Rumah joglo yang sekarang aku singgahi, adalah rumah kedua yang baru. Yang sebelumnya sudah hancur dibakar Belanda waktu masih jaman perang dulu. Membuat semua jadi ludes tak tersisa dan akhirnya si mbah jatuh miskin. Mbah kakung dulunya seorang lurah. Beliau juga pernah mempunyai alat-alat gamelan, gong, dan sejenisnya. Hafal gending-gending Jawa yang setiap habis isya’ selalu dialunkannya melalui pita suaranya yang mampu menghasilkan suara syahdu menurut penuturan banyak sanak dan saudara. Beliau orang yang tak pernah marah, namun amat disegani. Aku bisa merasakan betapa besarnya cinta Bapakku terhadap mbah kakung, tak sekali dua kali Bapak selalu meneteskan air mata disaat bercerita tentang masa kecilnya dengan mbah kakung.
“Ada rasa sedih dan kekecewaan, nduk. Bapak belum sempat membahagiakan beliau. Tepat Bapak diterima kerja, mbah kakungmu meninggal…” suara serak-serak basah yang berat bergetar bisa aku rasakan dari Bapakku.
Belum lagi saat mbah putri menyusul pula, Bapakku seperti sudah tak bisa lagi membendung kesedihannya. Saat itu aku menyaksikan Bapak yang lama sekali memandangi jasad Ibunya yang sudah terbujur kaku dengan bau wangi khas jenazah. Dengan mata yang sudah mulai memerah, dan pelupuk yang berkantong gemuk menahan air mata. Mbah putri tak pernah mengeluh dengan sakit yang mungkin dirasakannya. Aku ingat sekali saat beliau lama tinggal bersama di tengah-tengah keluarga kami. Hanya balsem ‘cap lang’ saja yang selalu dibawanya ke mana-mana. Dan setiap kali aroma balsem sudah menyebar ke seluruh ruangan, Bapakku selalu bertanya apakah Ibu yang dicintainya itu baik-baik saja. Dan memang benar! Si mbah selalu bilang baik saja, hanya pusing sedikit. Beliau selalu sabar menjagaku, melayaniku, dan menemaniku disaat aku ingin teman untuk berbicara, tak jarang pula beliau selalu menyuapiku dengan hanya nasi hangat ditambah tempe bacem khas buatan beliau. Aku ingat saat itu terakhir kami tinggal bersama. Khas dari sikap beliau adalah selalu memijit kakiku atau Bapakku bila terlalu lelah. Sering Bapak menolak, namun kata si mbah, “Ora opo-opo, mengko yen aku wis ora ono sopo sing mijeti kowe…” (Tak apa-apa, nanti jika aku sudah tidak ada siapa yang memijatmu…).
“Nduk, si mbah pengen sholat bareng kowe…” (Nduk, si mbah ingin sholat bersama-sama kamu…). Begitu pesannya sebelum aku tidur malam. Tak biasanya si mbah memintanya.
Aku menuruti keinginannya untuk sholat bersama. Saat itu adalah sholat tahajjud untuk pertama dan terakhir kalinya yang aku lakukan bersama si mbah. Si mbah, memang mbahku yang paling ndeso dan katrok. Beliau sangat setia dengan baju-baju kebayanya yang menurut aku ribet sekali memakai seperti itu disaat tidur pun. Namun, beliau justru terlihat lebih ayu dan sopan dengan pakaian seperti itu. Aku ingat sekali, bila beliau menghilang dari samping kasurku aku selalu berteriak mencarinya. Dan tak lain adalah beliau sedang mencari tempat yang sepi hanya untuk menikmati kinangnya sampai puas.Tak perlu pakai gincu pun bibirnya sudah merah merona. Beliau selalu minta didoakan agar Tuhan mengambilnya pada waktu yang baik, keadaan yang baik dan utuh. Tuhan mengabulkan keinginan beliau. Beliau kembali menghadap-Nya tepat saat sujud di sholat shubuhnya.
Semenjak ditinggal si mbah, Bapakku sering menyendiri dan menghindari banyak kerumunan orang. Aku mengerti betapa sedihnya beliau. Bapak selalu bilang berkali-kali bahwa belum cukup membahagiakan kedua orang tuanya. Walau sesungguhnya keadaan Bapak sebagai anak yang berbhakti bagiku adalah suatu perhiasan abadi bagi si mbah kakung dan si mbah putri.
Detik-detik sebelum meninggal, si mbah putri sempat meminta Bapakku untuk mengunjunginya, sebelum Bapakku nanti menyesal, begitu katanya si mbah. Namun, rutinitas pekerjaan yang tak pernah bisa ditinggal memang telah membuatnya menyesal. Bapak tak pernah sempat bercengkerama dan mohon didoakan oleh Ibunya yang mungkin itu adalah pertemuan terakhir.
Sejak kejadian itu, Bapak selalu memberiku pesan, “Jangan pernah kecewakan orang tuamu dan mertuamu. Karena jika engkau nanti merasa menyesal dan menyadari semua terlambat, rasa itu akan terbawa sampai kapan pun…ada ganjalan di hati yang tak akan pernah hilang, nduk…”
“Mama, dedek boleh main itu?” teriakan anak cintaku membuyarkan kenangan lalu yang menyeretku cukup dalam.
“Oh, dedek mau main itu? Itu juga mobil-mobilan sama kayak punya dedek yang di rumah, nak…” sambungku.
“Bukan, Ma! Ini bukan kayak punya dedek! Tuh, Mama…nggak sama!” protesnya kepadaku.
“Yaaahhh…punya Rama pasti lebih bagus ya di kota sana! Kalau punya Mas Bondan cuma dari kayu yang buat sendiri. Bisanya mesti ditarik dulu pakai tali…hahahaaaaa…” sela pak likku setengah dengan sindiran candanya. Sedangkan Rama hanya terdiam dan menoleh ke kiri-kanan tanda tak mengerti maksud candaan itu.
“Dedek mau naik, nak?” tanyaku.
“Mau, Ma! Dedek mau naik itu…” pintanya sambil dengan sedikit takut karena bukan barang miliknya sendiri.
“Yuk, sama aku! Tak tarik, ya, kamu naik!” ajakkan Bondan, anak laki-laki dari sepupu perempuanku yang berusia lima tahun.
Tampaknya mereka berdua tak perlu waktu lama untuk saling akrab berkenalan. Aku bisa meninggalkannya selagi dia bermain riang. Senang rasanya aku menyaksikan anakku lincah berlari ke sana-kemari. Dan baginya sedikit aneh dan takut berjalan di atas tanah yang warnanya merah, yang tak pernah ada di rumah kami. Untuk pertamanya jari-jari kaki kecilnya mencengkeram rapat dan berjalan pelan takut melangkah sebelum dia welcome dengan lingkungan barunya. Aku bisa menikmati duduk santaiku kembali di ruang tengah, di mana masih terdapat kursi rotan yang biasa dipakai jaman dulu, dan di tengahnya terdapat meja bulat berukuran sedang yang sudah tersaji teh ‘cap cokelat’ dan kopi tubruk. Ditambah tempe mendoan yang masih hangat. Itu sudah merupakan camilan yang sangat istimewa bagi kami jika berkunjung ke desa. Ada yang lebih istimewa lagi sebetulnya, apa kau tahu itu? Iya, betul sekali! Kacang mente yang bisa kami makan sepuasnya di sini karena tak perlu beli…hahahaaa…
Nyaman-nyaman saja, sih, duduk sambil menghabiskan semua sajian, namun jangan pernah lupa untuk memakai baju panjang atau celana yang panjang-panjang. Jika tidak kau akan merasakan gatal-gatal dan bentol-bentol di seluruh tubuhmu saat menduduki kursi rotan tua itu…hehehe…
Yah, apalagi jika bukan karena banyaknya binatang-binatang yang tak pernah bisa kau lihat. Kalau aku menyebutnya tinggi! Entahlah jika kau, apa sebutan untuk binatang-binatang nakal seperti mereka, yang kadang dijemur pun tak mempan untuk mati…hehehe…!
Jika menjelang magrib, biasanya makanan telah tertata rapi di tikar. Jadi, setelah sholat magrib biasanya langsung melahap apa saja yang ada di sana! Makanan yang tersaji di sini biasanya lombok deso, paling juga dengan tempe bacem dan beberapa potong ayam kampung yang digoreng biasa dan tawar tanpa bumbu. Biasanya sudah tak perlu sambal lagi, karena Lombok deso ini super pedas sekali. Kalau pun ingin wedang ronde atau angsle harus menunggu malam tiba dulu untuk bisa menikmatinya. Karena hanya pada malam hari saja para pedagang santapan hangat itu mengeluarkan batang hidungnya…hehehe…
Air tak pernah surut juga di sini, namun jangan terkejut jika seperti mandi dengan es batu…hahahaaa…! Mungkin karena itu juga orang-orang di pedesaan sini pada awet muda dan sehat-sehat.
Aku beranjak dari tempat dudukku melangkah menuju kamar yang dulunya tempat Bapakku tidur. Kadang juga pernah campur bersama kambing-kambing bilama terpaksa sekali waktu dulu beliau masih sekolah. Aku buka tirai yang usang itu, dan aku lihat hanya berisi buku-buku jaman sekolah dulu yang dibersihkan sama mbah putri dalam glangsing bekas tempat gabah. Lemari tua dan kaki-kakinya yang sudah mulai rapuh tak kuat menopang tubuhnya sendiri berisi banyak pakaian si mbah berdua yang masih tertata rapi di sana.
Aku mulai meneteskan air mataku saat buku-buku yang habis karena kutu itu membawa aku kembali ke sejarah masa kecil Bapakku. Di mana ada nama Bapak yang tertulis dengan pensil berwarna hitam, tulisan yang masih kaku tapi bagus seperti masih usia tujuh tahun. Dulu, jika ingin sarapan mesti ke juragan desa dulu, hanya untuk jadi buruh membersihkan kandang babi berserta babi-babinya. Barulah Bapak mendapatkan satu piring nasi dengan ukuran yang tak mengenyangkan dan satu cangkir teh yang ukurannya tak pantas untuk diminum. Masih bagus seukuran cangkir daripada yang diterima Bapak saat itu.
Untuk membayar uang sekolah, Bapak mesti mencari daun jati dulu untuk dijual ke pasar. Bapak orang yang bandel waktu beliau masih kecil, kata mbah putriku. Namun, jangan pernah menyepelekan prestasinya di kelas. Dulu bukan matematika namanya, tapi pipolondo (ping, bagi, poro lan sudo) tak pernah mendapatkan nilai di bawah 10. Dan sampai sekarang pun Bapak terkenal sekali dengan kekuatan otaknya untuk teknik berhitung. Sampai Bapak sekolah ke tingkat selanjutnya, beliau berjualan nasi goreng dan mie goreng gerobak itu. Hingga jadi pegawai di bengkel kasaran hanya untuk biaya pendidikannya. Semua pernah dijalaninya…
Dan Bapak pun sangat mahir menghitung usianya yang membuat aku terkadang sedih dan putus asa dalam menjalani hidupku. Hal yang paling aku benci jika beliau berbicara seperti itu. Aku rindu Bapak yang tak ada bersamaku saat ini. Tapi, sekaligus aku bangga dengan perjuangannya. Bapak yang banyak menunduk di depan anak-anaknya daripada bermuka lantang di depan anak-anaknya. Dan hal yang paling aku ingat dari beliau adalah, beliau orang selalu meminta maaf kepada anak-anaknya. Beliau merasa kami masih kurang bahagia mempunyai orang tua dengan keadaan seperti beliau. Padahal kami tak pernah berfikiran sedikit pun tentang itu. Maaf dan terima kasih adalah ciri khas ucapan beliau yang tak pernah surut bagai samudra.
“Jangan lupa untuk minta maaf dan terima kasih, nduk! Harus itu…”
Dan aku tak pernah melupakan pesan-pesan itu. Pernah suatu masalah menimpaku dan sakit hati dalam kesedihan berlarut dalam diriku, hingga seseorang itu menghubungiku.
“Nduk, jangan pernah jengkel, jangan pernah sakit hati, balaslah dengan baik. Agar dia belajar menghargai perasaan…beri dia kesempatan untuk belajar…”
Bapak orang yang tegar, tegas dan bertanggung jawab! Sangat malu sekali jika aku tak bisa menirunya. Dan sekali pun jika ada seseorang tak berkenan dengan caranya yang sebetulnya baik, maka Bapak tidak akan mengulanginya lagi. Bapak tak jarang bicara, namun aku selalu berusaha mengerti perasaannya. Dengan begitu aku akan menghargainya dan bisa mengambil sikap yang tak akan mengecewakannya.
Kau…jangan pernah malu dengan suatu sejarah yang mungkin bagimu kurang beruntung, karena perlu kau tahu bahwa sejarah tak pernah malu untuk kau ungkap! Ukirlah sejarah yang baik! Karena sejarah itu sebagian symbol bagaimana engkau mampu dengan baik pula menghadapi lika-liku hidupmu…
Manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk selalu dekat dengan orang tuamu, agar dekat pula doa-doanya untukmu. Tak akan bisa lagi kau mengemis minta doa kepada mereka bila ajal sudah menjemputnya nanti…
Kenalkan keturunanmu dengan sejarah-sejarah yang baik sebagai inspirasi dan semangatnya kelak, dari keturunan-keturunan sebelummu sekali pun. Agar dia banyak merenung, berkaca dan bisa melanjutkan hidupnya dengan banyak modal pemacu. Dan kelak agar dia bisa menghargai dirinya sendiri, menghargai orang tua dan keluarga besarnya. Menciptakan kebanggan dari dalam untuk dirinya sendiri itu adalah suatu modal utama disaat dia terjatuh nanti…
Aku bersyukur dengan Bapakku. Berkat beliau aku tak pernah kurang sejak kecil. Berkat beliau aku bisa makan sehari tiga kali, berkat beliau aku bisa mendapatkan susu terbaik saat aku tumbuh. Berkat beliau aku bisa sembuh dari sakit karena mampu menebus obat terbaik. Berkat beliaulah aku tak pernah susah-susah untuk mencari sarapan di pagi hari. Kekuatan beliaulah aku tak perlu mencari biaya tambahan untuk kuliahku. Kesederhanaannya membuat aku jadi peniru ulungnya. Beliau yang mengajari aku banyak bersyukur, beliau yang mendidik aku berani menghadapi apa pun. Dan semua yang terbaik dariku aku persembahkan untuk beliau…
Bapakku bilang bahwa, untuk tegar, bertanggung jawab, menghargai, berani dan tegas menghadapi hidup, adalah kesuksesan yang semuanya bisa kita raih sekaligus asal hilangkan rasa keluhmu!!!
*Tectona Grandis : pohon jati. *Bambusa Arundiacea : pohon bambu. *Agathis Lalillardieri : jambu mente. *Durio Zibethius : durian. *Persea Americana : alpokat. *Artocarpus Communis : sukun. *Pithecollobium Jiringa : jengkol. *Cocos Nucifera : kelapa. *Parkia Speciosa : petai. *Magnifera Indica : mangga. *Musa Accuminate : pisang. *Spondias Dulcis : kedondong.
Arie. P
14 Mei
Undangan Istimewa ‘Tjiok Cong Chen’!
Yogyakarta, 2011.
Ingin rasanya memiliki kota Yogyakarta seorang diri. Tanpa hiruk pikuk banyak orang. Mungkin akan lebih nikmat mendengarkan gending-gending Jawa seorang diri daripada mesti diperebutkan banyak telinga-telinga yang ingin menguasai alunannya.
Seiring hujan yang berguyur memasuki lebih dari pertengahan akhir tahun menemaniku menyeruput secangkir Nescafe- Original. Memang, segala sesuatu yang berawal dengan langkah kaki dari Stasiun Tugu akan banyak memberikan kesan tersendiri setiap kali aku menyambangi kota nan klasik itu.
Kali ini mungkin aku harus mencari sebuah penginapan yang ternyaman dan termurah, sebelum esok pagi aku memenuhi undangan seorang sahabat lawasku di mana tujuh tahun yang lalu kami mulai berkenalan di Kota Surabaya. ‘Tjiok Cong Chen’! Iya…dia laki-laki keturunan China. Dia begitu baik, walau kami beda dalam segalanya namun toleransi yang begitu tinggi selalu dijunjungnya. Penghargaan yang begitu besar terhadap sesamanya itulah yang membuat dia berbeda dengan teman-teman sekalangannya. Aku tak mengerti mengapa dia bisa berubah seperti itu. Mungkin bisa bawaan dari dalam dirinya, mungkin pula karena pengaruh yang baik-baik atas dasar cinta yang diberikan oleh seorang kekasih hatinya, ‘Lestari’ namanya.
Lestari adalah gadis sederhana dan bersahaja. Gadis Jawa, tepatnya asli Kota Solo. Senang sekali aku mengenalnya. Jaman sekarang masih ada seorang gadis modern yang mau mempertahankan Bahasa Jawa Krama Inggilnya secara mlipis! Mungkin mlipis ibarat licinnya kain sutra, tak ada kendala untuk menguasainya. Aku saja butuh waktu satu tahun untuk memperdalam Bahasa Jawa Krama Inggil. Rasanya malu saja jika aku tak menguasainya, hehehe. Jadi ingat artis Deasy Bouman, blesteran yang Bahasa Jawanya sangat lengket sekali di lidah. Senang saja bila aku mendengar orang-orang yang tak pernah menghilangkan medhoknya alias bahasa kampung yang tetap dipertahankan. Itu akan membuat penghargaan tersendiri bagiku, daripada harus menghilangkan profile asal usul dan berganti gaya bahasa gaul ala Ibu Kota besar yang katanya biar nggak ndeso. Ndeso atau tidak itu tak penting kurasa. Yang penting kantongi saja kosa katamu sebanyak-banyaknya!
Aku memanggil dengan akrab sahabatku ini ‘Tiok’! Tiok dan Lestari sama-sama mengemban study di sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Aku ingat sekali, saat itu pameran buku di Gedung Pemuda Surabaya yang telah memperkenalkan aku dan Tiok. Pun di sana banyak pernak-pernik khas Jogja yang dijual di mana itu adalah favourite-ku. Wajah lugunya yang menawarkan berbagai mainan education padaku yang membuat aku pertama tertarik untuk berhenti melangkahkan kakiku di depan etalase yang dia jaga. Permainan yang banyak terbuat dari kayu. Dan kami kenal lebih akrab karena aku kembali beberapa kali kepadanya untuk membeli berbagai tingkatan mainannya agar dapat melatih kerja otakku lebih jos!
Ya…hanya dua minggu saja pameran itu berlangsung di sana. Semakin hari kami semakin akrab dan bertukar nomer ponsel kami masing-masing. Aku suka mendengarkan dia yang bercerita, tentang apa saja yang bisa dijadikan untuk berbagi pengalaman. Agar semakin banyak wawasan dan pelajaran untukku, sampai tiba waktunya dia kembali pulang ke Yogyakarta. Dan tiba suatu masanya pula aku mengunjungi Yogyakarta, kami selalu meluangkan waktu bersama pula untuk bercerita banyak hal. Tentang pribadinya, kehidupannya dengan cinta terlarangnya dan pribadi kekasih hatinya itu.
Aku semakin penasaran dengan seseorang yang Tiok ceritakan padaku. Yang selalu dia puja di depan banyak orang. Alangkah bahagianya seorang perempuan yang sering dipuji pasangannya di depan banyak kaum. Jarang sekali mempunyai pasangan hidup yang seperti itu di jaman sekarang, bisa saling memuji satu sama lain. Mungkin kalau sekarang semua orang selalu ingin dipuji kesuksesan karena pekerjaan hasil kerja kerasnya, ketimbang memuji seseorang yang telah ada dibalik kesuksesannya sendiri. Bukan isapan jempolku belaka! Tiok ternyata mempertemukan aku dengan ‘Lestari’. Kehangatan yang terpancar sebelum kami berdua berjabat tangan sudah bisa aku rasakan. Lestari sangat santun, dan tak pernah diam untuk tak tersenyum saat mengobrol pun diantara kami bertiga.
Semakin jauh pertemanan kami, semakin kami saling menerima satu sama lain, barulah Tiok mulai membuka sedikit cerita tentang hubungannya dengan Lestari. Hubungan mereka yang ditentang oleh kedua orang tua karena tak satu marga. Di mana marga-marga di kalangan China masih dipertahankan sampai sekarang. Tiok diancam keluar dari marganya, dan Lestari pun demikian sama. Apalagi orang tuanya orang Solo asli yang menginginkan putrinya menikah dengan orang Jawa pula. Cinta yang ada diantara keduanya membuat mereka mengambil segala konsekuensi yang suatu saat mungkin akan diambil sebuah keputusan.
Dan sampai detik ini yang sangat mengejutkan aku, hingga aku ingin mendatangi mereka berdua. Mereka baru saja melahirkan putri kembar. Aku ketinggalan jauh cerita perjuangan mereka untuk bisa menikah dan punya anak. Tiok memutuskan untuk keluar dari keluarganya. Dan Lestari pun melakukan hal yang sama kepada keluarganya. Tapi, ada suatu kejadian yang membuat keluarga Lestari berluluh lantah mau menerima Lestari dan Tiok. Yaitu disaat Lestari membutuhkan transfuse darah pasca kelahiran dua putri lucunya itu. Namun, tetap tidak berubah dengan keluarga Tiok. Rasanya masih susah menerima Lestari ada di tengah-tengah mereka.
Aku berusaha mengusut apa yang terjadi dengan mereka. “Jika kau datang ke Jogja, barulah kau akan tahu dengan sendirinya. Dan kamu pasti akan tahu kenapa kami masih belum bisa mengajakmu ke sini…” Begitulah Tiok mengatakannya padaku sebelum hari ini.
Penasaranku terbayar dengan suatu pemandangan yang tersaji di depan mataku. Begitu mengejutkan bagiku melihat mereka berdua. Saat ini Tiok sudah menjadi mu’alaf. Namun, dengan semua keputusan yang telah mereka ambil, terpaksa Tiok dan Lestari harus menyewa rumah kumuh dan sempit di sebuah gang kecil. Yang baru aku tahu, mungkin itu tidaklah layak bagi seorang Ibu hamil dan anak yang dilahirkannya. Mereka berdua tak punya apa-apa. Tiok yang terkadang serabutan menjadi tukang parkir, karena sumber nafkah yang pernah diwariskan oleh keluarganya dicabut mentah-mentah darinya.
Saat aku menangis berhadapan dengannya, dia bilang padaku bahwa, “Rie…keluarga memang yang mendekap kita mulai dari kita kecil. Bhakti sama orang tua itu tetap aku lakukan, dengan jalan aku tak pernah membenci mereka walau aku sudah diperlakukan seperti ini. Aku pesan kepadamu, tidak ada dosa terukir jika orang yang kamu perjuangkan itu memang pantas untuk kamu perjuangkan! Dan orang yang kamu perjuangkan pun harus tahu bahwa kamu sudah memperjuangkannya!” Sambil dia menepuk pundakku saat itu.
“Jangan sampailah kau sudah berjuang untuk dia di hadapan keluargamu, dia malah menganiaya batinmu dan tak menghargai keluargamu! Itu namanya orang angkuh dan sombong. Kenapa aku mempertahankan Lestari? Semua bukan karena materi, Rie! Tapi sikapnya yang selalu menghargai keluargaku dan dia yang mampu membuatku damai walau tak punya apa-apa. Bukan aku pasrah, aku berjuang mulai dari nol agar suatu saat kelak aku punya rumah yang layak, di mana anak-anakku sehat dan kau pun kelak bisa singgah bersama anak dan suamimu ke tempat kami” Tiok berkata sambil menghapus peluh keringat dan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Tiok yang dulu terlihat kulit khas Tionghoa-nya, sekarang tak berbekas lagi karena terik panas tak ada ampun baginya. Celana yang lusuh, sepatu yang hancur ujungnya dan baju seragam parkir yang bisa menjatuhkan mentalnya jika tak kuat menghadapi orang banyak yang dia kenal…semakin bertambah kebanggaan buatku. Tiok orang yang tegar dan sangat bertanggung jawab.
Aku menyarankan pula untuk ikut saja usaha di teman yang pernah mengajak dia saat dulu. Namun, dia menolak. “Biarlah, aku ingin mengumpulkan modal sendiri sedikit demi sedikit, Rie…” jawab yang tanpa ingin dikasihani.
Undangan itu aku anggap sebagai undangan paling istimewa buatku, di seumur hidupku. Walau air putih yang disuguhkan berlangit dan bau sangit bersama kerupuk rengginang yang berwarna tak putih bersih berada di lantai bawah tanpa alas, namun itulah keistimewaan sahabatku ini. Dia orang yang tak pernah malu. Sebuah undangan, di mana dia pun ingin dihargai dan tak ingin diremehkan dengan keadaan dia yang sekarang. Di wajah Lestari pun aku menunggu lama perubahan, namun tak kunjung perubahan itu datang menyelimuti wajah manisnya. Dia tetap hangat tersenyum, tersenyum dan tersenyum. Tak ada kegundahan dan keluhan.
“Apa kau tak kerja saja?” tanyaku pada Lestari.
“Aku akan bekerja jika aku turut membantu usaha suamiku! Agar kami tak akan terpecah belah dalam prinsip hidup karena bidang pekerjaan kami yang berlainan.” Jawabnya pelan dan mantap di hati.
Aku kalah dengan keteguhan hati mereka! Mereka berdua sama-sama tak pernah mau dikasihani, terlebih oleh orang tua Lestari sendiri.
“Kami tak pernah iri dengan teman-teman kami yang sangat mudah mendapatkan pekerjaan. Karena bagi kami Tuhan sudah menggariskan jalan rezeki kami. Mungkin Tuhan tahu cita-cita mulia kami, sehingga kehidupan kami yang layak masih tertunda sebentar. Kami ingin berusaha sendiri dan bisa memberikan pekerjaan dan kesejahteraan pada orang yang membutuhkan. Daripada kami harus menjadi karyawan yang dibutuhkan orang-orang yang terkadang kurang memikirkan kesejahteraan kami di atas gedung-gedung itu…” jawab Lestari sambil menyusui kedua putri kembarnya.
Aku tersenyum mendengar petuah Lestari saat itu. Aku berharap, aku akan mendapatkan undangan istimewa lagi dari mereka berdua. Dengan keadaan yang nanti sudah lebih baik lagi dan dengan cerita perjuangan yang bisa membuat banyak orang bersemangat dalam hidup.
Perjalananku mengunjungi mereka adalah perjalanan terindah bagiku, kesan yang tetap hangat walau keadaan mereka terhimpit. Dan rasanya akan tetap terhangat jika memang dari dasar hati cinta itu begitu besar dan kuat mengalir di seluruh urat nadi. Tak peduli keadaan apa pun, namun suasana terhangat itu akan tetap muncul mengitari sebuah pelukan antara sepasang yang saling mencintai dengan melepaskan segala atributnya.
Aku mengambil satu terpenting dari sebuah kisah, bahwa bagiku hidup, menjalani hidup, menghadapi hidup dan menyelesaikan kehidupan itu tak lebih dari sebuah modal ‘BERANI’ dalam melangkah!!!
Arie. P
13 Mei
Jodoh Di Rumah Sakit Jiwa…
Jakarta, 2012.
Migrain adalah makanan sehari-hariku apabila penat akan kemacetan melanda Ibu Kota. Hawa yang sangat panas, dan polusi yang semakin meluluh lantahkan cadangan oksigen di kota asap itu. Seakan tak memberiku ruang segar untuk bernafas, menyesakkan dadaku dan membuatku pening karena racun-racun oksidasi bahan bakar mobil-mobil orang kaya yang dengan setia berderet menunggu antrian macet! Tak peduli dengan waktu berapa lama untuk menghabiskan di atas aspal panas dengan jalan tak mulus itu. Dengan sombongnya tak ada ketakutan karena terlindung dari terik mentari dan murkanya awan gelap yang setiap saat bisa menyerang mereka. Tak ada kehangatan saat berpapasan dengan penduduknya, seakan mereka tak kenal, karena memang tak kenal! Tak mau mengenal karena egois, individualisme! Hanya bau-bau keringat yang bertebaran saja yang hangat menyapa di mana-mana. Seolah tingginya biaya hidup di Ibu Kota sudah membuat tak mampu lagi harus membeli parfum favourite! Ibu kota memang sekeras yang kita fikirkan, bahkan intelektualitas pun tak dapat mengalahkan kerasnya kehidupan bak rumah rayap yang padat merayap itu. Hari ini adalah hari paling egois buatku. Aku tak mau terganggu dengan apa pun atau siapa pun. Termasuk kau! Kau yang hanya akan membuang waktu dan fikiranku saja. Apakah kau tak tahu jika aku saat ini sedang addicted!
Tak usah kau bertanya addicted tentang apa! Itu semua gara-gara kau yang sering mengajakku ke sana untuk menyambangi Ibumu yang kurang waras itu. Dan sekarang aku ingin sekali ke sana tanpa kau! Aku fikir tak apalah jika sesekali aku melangkah tanpamu. Aku lebih bebas mengaktualisasikan diriku sendiri…
***
Sepertinya yang membuat aku addicted untuk menyambangi Rumah Sakit Jiwa ini karena ada yang memanggilku dari lorong paling akhir diantara banyaknya lorong-lorong ruangan. Entah kenapa tak ada rasa takut lagi seperti pertama kali aku berkenalan dengan rumah yang membuat gengsi orang menjadi turun bila menyebut nama ‘RSJ’! Orang yang sakit jiwa, di mana bukanlah hanya korban keturunan genetik (kata orang-orang kuno)! Melainkan sebab yang tak pernah terungkap karena tekanan pun, banyak terlantar di sini. Tentu sajalah, aku bahkan kau pasti paling tak mau bukan, berurusan dengan RSJ? Mereka semua yang ada di sini bukan untuk dikucilkan! Terkadang mereka lebih baik dari sikapmu yang justru jadi orang waras!
Seorang suster yang mendampingiku berjalan sejajar, langkah santai kami yang akrab dan senyumannya yang bersahabat. Terlukis sekali dia orang yang sangat penyabar.
“Mbak, yang sering datang dengan teman laki-lakinya yang cakep itu, ‘kan?” tanya suster itu dengan ramah.
“Iya, sus! Perasaan justru saya yang tak pernah melihat sus…” jawabku. “Orang Jawa?” lanjutku.
“Iya, mbak! Saya pendatang dari Semarang…” jawabnya dengan menundukkan wajah sopan. “Kenapa, ya, mbak?” lanjut suster itu.
“Lega saja! Saya nggak dipanggil ‘teteh’…hahahaaa…” ledekku.
“Ahhh, begitu, ya? Mbak bisa saja…hehehe…tapi memang dari wajahnya kelihatan mbak ini orang Jawa…hahahaaaa…” canda si suster.
Obrolan kami semakin akrab untuk mengenal satu sama lain. Dia banyak bercerita pengalamannya selama menjadi suster di RSJ. Pernah pula dia menjadi suster pribadi seorang keluarga kaya lumayan terkenal, namun rupa-rupanya dia enggan untuk menyebutkan identitas demi menjaga nama baik seseorang itu. Bahkan, tak jarang pula dia menceritakan pengalaman mistiknya yang terkadang tak dapat kita logika sebagai manusia. Manusia yang terkadang sombong dengan hal ghaib! Padahal kita selalu menyembah Maha Ghaib! Mungkin begitulah pemikiranku.
“Maaf, mbak…tuh! Ibu Lastrinya sedang duduk di bawah pohon beringin…” suster itu sambil menunjuk lantang tepat sasaran ke arah Ibu yang masih paruh baya.
Terkadang aku menerawang jauh, kenapa Ficus Benghalensis selalu indentik dengan kesendirian serta lamunan dari fikiran-fikiran kosong orang sakit jiwa. Belum lagi di ujung paling sudut kanan, mengerikan sekali bila aku memandang Celba Pentandra tua, yang semakin tua semakin kokoh dan menyimpan kekuatan mistik yang dapat menarik seseorang yang peka untuk mendatanginya. Tak jauh dari rumah sakit pada umumnya! Felis Catus selalu ada di mana-mana dengan penglihatan mereka yang kadang tak wajar bila kuamati. Penuh sorot tajam seakan dia mampu berkomunikasi dengan bangsa manusia. Menurut orang jaman nenekku Felis Catus adalah sebagai lambang atau pun pertanda, bahkan sebagai ramalan karena dia yang paling dekat dan membaur dengan kehidupan manusia. Seakan siapa pun yang menyia-nyiakannya maka ‘kualat’ yang akan didapat! Ada beberapa di tembok belakang sudut kamar terdapat tanaman yang menjalar dengan rapi secara alami, Piper Betle! Mengeluarkan aroma harum yang semerbak khas wanita. Tak jarang para Ibu menggunakannya sebagai jamu ramuan tradisional yang semua wanita pasti tahu akan khasiatnya. Jadi teringat almarhumah nenekku yang tak pernah absen untuk menggunakan Paper Betle ini sebagai makanan pokoknya, tak jarang bisa delapan sampai sepuluh kali dalam sehari. Orang dulu menyebutnya dengan kinang (menginang)! Berharap sekali dulu beliau hendak memesan makanan atau pun kue jika aku keluar rumah. Tapi, beliau tidak seperti itunya! Beliau lebih bangga jika nampan kecil di rumah selalu diramaikan oleh benda yang dianggap berharga baginya. Apalagi jika bukan setumpukkan Paper Betle dengan hijau suburnya yang jadi penghias utama, kemudian disusul dengan gambir berwarna merah yang mampu membuat bibir tipis jadi merona indah, ada enjet (gamping kalau orang Jawa bilang), belum lagi tembakau kering yang biasanya dipakai dalam proses akhir setelah menginang. Yang biasanya ditaruh di salah satu sisi mulut dalam, sehingga terlihat nyempluk di bagian pipi luar!
Untuk kali ini aku bisa luas memandang sebebas diri tanpa batas. Tak seperti biasanya bila aku jalan bersama dengan Doni, sahabat yang menggandengku sejak sepuluh tahun yang lalu itu. Dialah anak dari Ibu Lastri yang sedang aku kunjungi saat ini. Di sudut kiri jauh kupandang Samanea Saman, lagi-lagi usianya tak muda! Sepertinya semakin tua tanaman semakin nyaman untuk tempat berkeluh kesah tentang hidup. Bisa mengukir imajinatif apa pun dengan gratis tak perlu susah payah harus berkelana kemana-mana. Mungkin itu yang aku tangkap dari keseharian orang-orang yang berpenyakit jiwa di sini. Mulai dari level rendah sampai level paling tinggi.
“Sus…terima kasih, ya…sampai ketemu lagi…” aku mengulurkan jabat tangan dengan seorang suster yang sangat santun itu.
“Ehmmm…mbak…kalau boleh tahu nama sampean siapa, ya?” lanjut suster itu.
“Ooohhh, panggil saja Rani!” sambil aku usap punggungnya.
“Tia, mbak!” balas suster yang ternyata mempunyai nama panggilan ‘Tia’ dari nama panjang ‘Yustianti’.
“Senang bisa berkenalan denganmu, sus…” sekali lagi aku sumbangkan senyum terhangatku dengan belaian di punggungnya.
“Sama-sama, aku tinggal dulu, ya, mbak? Aku ada di ruang depan tadi bila butuh sesuatu…” lanjut Suster Tia. Dan aku menganggukkan kepalaku tanda setuju padanya.
Aku memelankan pijakan kakiku di atas Cyperus Rotundus yang menambah kesejukkan awan yang mulai mendung. Banyak Magnifera Indica yang terlihat cantik dengan Phalaenopsis Amabilis di sekeliling batangnya yang masih berusia sedang. Ibu Lastri sepertinya tidak terlalu memperhatikan kedatanganku. Beliau sedang sibuk menundukkan kepalanya seakan sedang melakukan kegiatan yang membuatnya sangat asyik sekali!
Aku langsung menghampirinya dan melingkarkan tanganku di pundak beliau dengan lembut. Beliau seketika itu sedikit terkejut dan menolehkan pandangannya tepat ke arah mataku. Baru kali ini aku merasa sangat dekat dengan Bu Lastri yang biasanya aku melihatnya dari sisi lain disaat beliau sedang bercengkerama dengan anak semata wayangnya, Doni.
“Kau ini Rina, ‘kan?” beliau tersenyum penuh kehangatan sambil meletakkan telapak tangan kirinya di atas pahaku. Tangan yang begitu halus walau mulai termakan usia, kulit yang sangat cerah dan bersih, kuku yang masih kuat dan segar tanpa ada rapuh yang menghampiri. Masih terlihat cantik dengan wajah polos yang sedikit pun tak ada bedak dan lipstik yang menyelimuti wajah di mana belum banyak berkeriput itu.
“Kok Ibu tahu?” jawabku setengah berbisik. Dan beliau hanya tersenyum kembali padaku tanpa menjawab.
Bu Lastri kembali menundukkan kepalanya dan meneruskan kegiatan yang sedang membuat hatinya asyik itu. Apakah kau ingin tahu kegiatan apa yang beliau lakukan? Bukan…! Beliau bukan bermain yang tak jelas seperti pasien lainnya, beliau pun tak diam bisu melamun seperti pasien yang sudah gila sangat kronis. Beliau bukan sedang berdandan amburadul seperti pasien lain yang bermimpi jadi artis, beliau tak pernah berteriak-teriak dan tertawa terpingkal-pingkal secara berlebihan setiap saat seperti kebanyakan pasien pada umumnya. Beliau pun tak mengomel seperti anak kecil dengan rambut penuh pita berwarna-warni tak beraturan. Ibarat beliau ini orang berpenyakit jiwa yang sangat santun dan pandai yang pernah aku kenal untuk sementara ini.
“Kau pasti sedang enggan mengajak Doni bersamamu, ya?” celetuk Bu Lasti sambil meneruskan kegiatan lukisnya. Mengajukan pertanyaan sambil terus berkarya.
“Nggak kok, Bu! Doni kan sedang sibuk kerja…” jawabku sedikit gugup. Tentu saja Bu Lastri benar, memang aku sedang enggan mengajak Doni ke sini. Hanya aku mencari alasan yang terbaik saja.
“Ibu suka melukis…” tanyaku.
“Kau bisa melanjutkannya untukku?” sambil menyerahkan kertas yang sudah penuh dengan ukiran pohon dengan persawahan yang sangat indah. “Ayo…!” perintah Bu Lastri padaku.
“Tapi…aku tak bisa melukis, Bu…hehehe…” aku menolak secara halus pemberian kertas itu.
Kemudian Bu Lastri mengambil kertasnya dan melanjutkan melukisnya lagi dengan sedikit-sedikit tersenyum.
“Bu, kenapa tak pulang saja?” tanyaku pelan tanpa menyinggung perasaannya.
“Di luar sana aku selalu menjadi orang yang tak waras. Tapi, di sini aku sembuh…” beliau menjawab dengan terus melanjutkan lukisannya dengan crayon berwarna-warni yang hampir habis per batangnya itu. Memang Doni selalu memfasilitasi apa pun yang diminta Ibunya, asal bisa membuat Ibunya bahagia. Aku terus membelai pundaknya sambil memperhatikan lukisan layaknya seperti lukisan orang yang sangat waras dan selalu dapat ranking satu di kelas.
“Aku punya sesuatu untukmu…” sambil bicara tajam dan diiringi oleh tangannya yang bergerak-gerak karena coretan crayon di atas kertas gambarnya.
“Ooohhh…buat aku, Bu? Apa itu?” jawabku sambil menunjukkan ekspresi ringan dalam balutan kehangatan kami.
“Yuk…ikut aku…!” Bu Lastri menggandeng tanganku. Kertas dan crayon itu sengaja ditinggalnya di tengah taman demi mengajakku ke sesuatu hal. Aku diajak masuk ke kamarnya. Yah…betul! Lorong paling akhir yang serasa angker buatku. Walau siang hari penuh sorot cahaya pun, entah kenapa lorong itu terasa aneh suasananya. Aku terus digandengnya berjalan pelan tertatih, menuju kamarnya yang paling pojok dan paling ujung. Beliau melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku setelah memasuki ruangan berpintu putih . Dan berjalan menghampiri almari kecil berwarna cokelat kemerahan.
Beliau membuka pelan-pelan dengan gemetar. Dikeluarkannya tas kresek putih polos. “Kemarilah…!” perintahnya kepadaku.
Aku berjalan menghampiri Bu Lastri yang duduk di tepi kasur yang tak luas. Hanya cukup untuk menampung satu ukuran tubuh ini saja dikala terbaring, tak ada lebih walau hanya 50 cm. Dia mulai mengeluarkan banyak tumpukkan kertas-kertas. Aku sedikit heran, kertas apa itu? Tahukah kau…setiap malam, Bu Lastri ternyata menulis dengan sebuah pensil 2B. Masih aku ingat sekali tajamnya warna goresan pensil itu disaat aku masih duduk di bangku sekolah. Goresan yang berwarna hitam pekat! Sangat tak enak sekali untuk menulis, dia ibarat hanya cocok menjadi sahabat bagi pelukis saja! Teksturnya yang lunak, yang terkadang membuat tulisan tak jelas dibaca jika dipakai untuk merangkai kalimat.
Aku berusaha mengerutkan dahiku untuk lebih mencermati tulisan apa saja yang beliau tulis. Begitu banyak sekali! Mengenai masa lalunya dan anak yang dicintainya. Aku tak menyangka, Bu Lastri penghuni ‘RSJ’ sangat mampu melakukan yang baik-baik yang jarang pasien lain lakukan. Bagaimana mungkin beliau bisa menyusun suatu huruf berjajar menjadi kata, dari kata yang mencari sepasang kata, menjadi beberapa kata, sehingga terlahir kalimat-kalimat yang sangat santun bila dibaca.
“Simpanlah untukku!” sambil dengan wajah yang memelas padaku. “Entahlah! Kenapa Doni belum datang ke sini untuk mengantarkan lembaran-lembaran kertas kosong. Jadinya, beberapa malam ini aku tak bisa menulis. Sayang sekali, beberapa malam tak aku abadikan dalam kertas!” keluhnya sambil memandang ke sebuah jendela kamar yang jauh di sana banyak taman yang berjajar.
“Iya…aku akan menyimpannya untuk Ibu!” jawabku. “Biar nanti aku yang bawakan Ibu banyak kertas-kertas kosong!” lanjutku.
“Wah…benarkah, Rina?” dengan wajah kembali sumringah.
“Iya, Bu…” sambil aku memeluk pinggangnya. “Memangnya ini tulisan apa, Bu? Ibu hebat, bisa mengumpulkan lembaran kertas tanpa kosong sedikit pun setebal ini!” lanjutku. Sebetulnya, sih, aku bisa membacanya sendiri di rumah. Namun, tak enak rasanya jika aku tak mendengarnya sendiri dari beliau.
“Jangan sampai Doni tahu tentang tulisan itu! Kecuali jika memang Tuhan memanggilku!” Bu Lastri menatap langit putih tak ada tepi biru kala itu. Tetesan air matanya berlinang membasahi bibirnya yang bergetar untuk melanjutkan ceritanya kembali. Seketika itu, aku seperti berat sekali di titik tengkukku! Bu Lastri seakan memaksa agar aku mau masuk lorong waktu dan masa jauh di balik layar lalu. Jari jemarinya yang lembut menggenggam teralis besi jendela bak rumah kuno. Semakin erat genggamannya seakan semakin menambah kekuatannya untuk bercerita. Aku pun menyiapkan diriku, dan telingaku dengan seksama untuk suatu ungkapan yang selama ini aku menantinya dengan penuh harap.
***
37 tahun yang lalu…
Aku terkenal sebagai perempuan cantik. Seakan aku anti dengan modern, sampai-sampai kebaya dengan warna nan apik dan terang selalu menghiasi tubuhku yang berkulit sawo matang hampir setiap hari. Sengaja aku memilih warna-warna terang agar orang memperhatikanku. Aku ingin orang tahu aku Indonesia dan gadis Jawa. Ibuku dan nenekku yang selalu mengajariku merawat diriku dengan baik. Dan Bapakku yang menggalakkan semangatku untuk menjadi sang kutu buku agar aku tak kuno dan kolot dalam berfikir. Apalagi untuk menghadapi laki-laki yang banyak tak menghargai perempuan. Senjata ampuh bagi kami adalah kami harus menjadi perempuan-perempuan pintar dan cerdik!
Aku bangga dengan diriku sendiri! Dan aku bangga dengan orang tuaku yang walau mereka orang desa dan tak sekolah tinggi, namun mereka selalu mendidik diriku untuk mencintai apa yang sudah Tuhan berikan kepada kami melalui keluarga kami. Sampai datang seorang laki-laki yang sempat menaruh hati padaku dan bersegera menikahiku. Dia begitu lembut kurasa, sedih rasanya jika tak bisa memperhatikan kebutuhannya walau dalam hitungan jam. Hingga tiba suatu masanya kami menikah…
Berselang beberapa bulan kemudian aku hamil. Seakan anugerah bagi kami berdua, tak lama pula aku menunggu kehamilanku. Buah cintaku dengan seseorang yang sangat aku kasihi. Tapi, namanya juga rencana Tuhan, aku tak pernah tahu masa depanku yang serba ghaib! Saat suamiku bertugas jauh ke luar kota, lama dia tak kunjung pulang. Bahkan aku tak punya cara lagi bagaimana untuk menghubunginya. Hingga penantian kabar yang aku cari datang dengan sendirinya tanpa aku mencari.
Ternyata, kenyataan pahit yang harus kuterima benar-benar harus aku telan mentah-mentah! Suamiku menikahi anak dari atasan di tempat kerjanya. Yang merupakan putri tunggal satu-satunya. Dan dia mewarisi semua harta kekayaan orang tua istri barunya. Sesaat itulah fikiranku kacau, dengan posisi aku yang sedang hamil tua. Aku nekad mendatangi sebuah kantor yang dipimpin oleh suamiku. Tapi, entah kenapa perasaanku semakin tak enak melihat gelagat suamiku. Ataukah mungkin aku seorang Ibu yang sedang teraniaya, sehingga Tuhan begitu adil padaku dengan menunjukkan tanda-tanda aneh pada suamiku. Suamiku ternyata tak mengenali aku sama sekali. Pandangan matanya beda dan kosong tak mempunyai kesan sama sekali, dia lebih susah berbicara, lain seperti dulu. Mungkin kalau sekarang orang bilang seperti penyakit stroke. Bibirnya hanya bergetar tapi tak mampu dia untuk berbicara. Sepertinya dia ingin memelukku namun tak kuasa, karena ada kekuatan lain yang membuat kita tak bisa dekat.
Aku terpaksa pulang dengan hampa, alias harapan yang kosong. Aku tak dapat membawa suamiku pulang. Bagaimana aku bisa mengajaknya pulang, sedangkan mengenali aku saja dia tak ingat. Beberapa hari kemudian, entah kenapa hatiku terdorong untuk menjenguknya kembali ke kantornya. Nafas panjang berkali-kali aku hela. Pasti aku akan bertengkar dengan petugas kantor lagi seperti kemarin untuk bisa memasuki kantornya. Ujung-ujungnya aku menyelinap secara diam-diam. Yah…mungkin hari itu aku harus menggunakan cara yang sama lagi untuk bisa menemui suamiku. Padahal, sudah berat sekali langkahku untuk menggendong si jabang bayi ini dalam perutku.
Sekali ini, Tuhan masih menolongku dan memberi aku jalan untuk bisa bertemu dengan suamiku. Pelan-pelan aku membuka pintu kantornya karena kedatanganku yang menyelinap. Alangkah senangnya setelah aku bisa bertemu kembali dengannya. Ingin sekali aku mendekapnya. Namun, tiba-tiba keluar dari sebuah kamar mandi di ujung ruangan seorang wanita cantik dan mungil. Dia membawa sesuatu dalam cangkir dan kemudian disuguhkannya untuk suamiku tercinta.
“Ayo…diminum dulu, sayang! Harus habis, ya…” rayu manja wanita itu dengan belaian lembutnya pada suamiku.
Hatiku serasa disayat-sayat pilu, aku tahan kondisi perutku yang kram kencang sedari tadi, mungkin karena aku naik tangga terlalu tinggi dan keterkejutanku menyaksikan sesuatu yang menghujam nadiku. Ada sesuatu yang aneh bagiku, kenapa suguhan secangkir minuman itu keluar dari kamar mandi?
Di situlah fikiranku mulai tak beres. Aku mulai berani mengambil tindakan meski bayiku menendang-nendangku sakit sampai ke ulu hatiku. Entah, aku tak peduli apakah aku akan melahirkan atau tidak. Bahkan, rasa mau melahirkan saja aku tak tahu karena ini kehamilan pertamaku. Aku segera mengambil cangkir itu sebelum suamiku hendak meminumnya. Aku sempat bertengkar hebat dengan wanita yang aku tak tahu namanya itu. Dia tak peduli bahwa aku ini istrinya.
Aku segera mencium dari aroma cangkir aneh itu…sudah aku duga sebelumnya bahwa ada yang tak beres dari semua tindakan wanita tengik itu. Bau pesing dari cangkir itu menyeruak lekat di hidungku. Ingin muntah rasanya. Hingga aroma teh kalah dengan aroma air seni yang menjijikkan itu, yang seharusnya masuk ke got!
Suamiku bagai orang linglung yang hanya bisa menjadi penonton kami berdua yang sedang adu mulut! Apa boleh buat, sepertinya suamiku kena guna-guna wanita itu. Tak ada lagi yang harus aku lakukan, aku kalah dengan wanita yang segera menggiring suamiku keluar dari ruangan kantor. Aku menangis sepanjang perjalanan langkah kakiku yang terseret lelah.
Dan pada akhirnya aku melahirkan bayiku tiga hari kemudian setelah kejadian itu. Aku melahirkan di rumah di mana seluruh keluargaku memberiku semangat dan dukungan. Bayiku sangat tampan dan gagah, begitulah aku melihatnya. Mungkin suara tangisan bayiku adalah cambukkan bagi hati suamiku, karena ini darah dagingnya. Bagaimana pun juga aku yakin suamiku tetap mengingat kami, hanya saja kekuatan setan itulah yang menghalangi fikirannya. Aku tak kuat menahan depresi yang menimpaku, hingga ASI saja anakku tak pernah mendapatkannya. Aku sedih, tangisan bagiku bagaikan lautan yang selalu meluap-luap tak pernah surut.
Hingga akhirnya aku sering bertindak di luar kontrolku. Aku sering tak ingat apa pun dan bertindak yang membahayakan bagiku dan anakku. Sampai akhirnya aku ditempatkan di sini, saat Doni berusia 20 tahun. Ibuku selalu membawa Doni seminggu sekali mengunjungiku. Aku sangat mencintai anakku, karena dia tak pernah malu dengan kondisiku. Doni selalu bercerita teman-teman kuliahnya, mulai dia lulus, sampai dia diterima di perusahaan besar. Dia selalu menceritakannya padaku walau kadang aku tak bicara dan hanya menangis. Aku tak tahu apa yang sedang menderaku. Kadang tanpa sadar aku membenturkan kepalaku hingga berdarah. Aku tanpa sadar menjatuhkan diriku dari tempat tidur hingga pernah tanganku terkilir! Namun, kadang juga aku berteriak histeris seakan ingin meluapkan sakit hatiku dengan membunuh orang.
Aku ingin di sini selamanya….
Mungkin kau heran kenapa aku ingin di sini? Hahahahaaaa…aku yakin kau heran denganku, Rina!!!
Saat inilah aku mulai takut dengan emosi Bu Lastri yang tak stabil.
Karena dia ada di sana Rina!!! Dia di sudut sana!!!
Bu Lastri langsung menggandeng tanganku untuk keluar dari kamarnya. Dan mengajakku ke sebuah kamar yang dikunci dari luar. Tak jauh dari lorong kamarnya. Itu Rina…! Karena dia aku setia di sini…
Mata Bu Lastri mulai menangis, dan pucat. Aku melihat di balik kamar dengan sedikit jendela berjeruji itu ada seorang laki-laki yang menekukkan badannya di sudut kamar, dengan tangan yang terikat. Mata yang selalu terlihat merah dan gemetaran. Hatiku mulai berdetak kencang, fikiranku kemana-mana, semakin aku menggelengkan kepalaku karena banyaknya system perkiraanku yang keluar dari sana…
Bolehkah aku menduga…? Bolehkah aku menduganya…?
Ayo, Rina…kasihlah salam dengannya! Dia suamiku…
Kali ini aku tak dapat melarang air mataku untuk tidak keluar sebebas-bebasnya. Mungkin alangkah baiknya aku sekali ini memanjakannya berenang-renang di pipiku…
Bu Lastri langsung membalikkan badannya dan kembali berjalan tertatih menuju lorong kamarnya. Aku sesaat mengikutinya dari belakang dengan perasaan yang ikut berkecamuk! Inilah yang terkadang membuatku tak sanggup mendengarkan suatu cerita tentang sebuah kisah yang ingin berkisah pada sang master kisah…
Aku tersungkur lemas dan langsung meletakkan tubuhku di satu kursi dekat ranjang mungil Bu Lastri…
Sekarang, bukankah kau tahu, Rin…kenapa aku sangat setia berada di sini. Ini bagai rumahku bersamanya. Dan Doni tak pernah tahu, semua orang tak pernah tahu tentang ini. Kenapa aku memilih sakit di sini. Karena dalam tak warasku aku bahagia bisa bersamanya dan memandangnya setiap hari. Bagiku dia tetap suamiku yang paling tampan sehingga menjadikan anakku yang sungguh tampan. Anakku pun mewarisi semua kepandaian yang pernah dimiliki suamiku. Dari cara dia bekerja, tekun dan uletnya dia berjuang tak pernah jauh dari Bapaknya.
Simpanlah tulisan burukku di kertas itu. Dan jangan pernah engkau tunjukkan pada anakku sebelum Tuhan menjemput ajalku…
***
“Permisi…maaf! Bu Lastri waktunya istirahat…makan dulu, segera minum obat! Yuk! Oh…iya, ini tadi kertas gambarnya ketinggalan di taman…” Suster Tia begitu mengejutkan obrolan Bu Lastri seketika itu yang terputus. “Tuuuhhh…Bu Lastri lupa lagi, ‘kan? Nanti kalau hilang marah lagiii…” lanjut Suster Tia dengan semangatnya seperti ngemong anak kecil yang tak pernah melepas senyumannya.
Karena tak sanggup menahan dadaku yang seperti sesak tertekan hasutan hidup, aku segera menghampiri Bu Lastri yang masih setia memegang jeruji jendela sambil menerawang kosong bersama matanya yang bening itu. Aku memeluknya dari belakang erat-erat. Aku luapkan semua tangisku. Semua rasaku, genggamanku yang erat serasa menunjukkan ketidak sanggupanku jika harus menjalani itu semua. Beliau membelai kedua tanganku yang membalut tubuhnya. Sesekali menepuk punggung tanganku yang mungkin sedikit lebih kurus dari beberapa tahun yang lalu.
“Pulanglah…!!!” bisikkan lirih Bu Lastri kepadaku.
“Ibuuu…aku tak tahu apakah aku bisa menemuimu lagi…” sesenggukkan tangisku dibalasnya dengan senyuman hangat yang menggetarkan pipiku. Telapak tangan yang ditempelkannya mengingatkanku kepada seseorang yang sangat aku rindukan, Ibu mertuaku yang sangat aku cintai. Di mana bila dekat dengan beliau aku sering memeluknya. Di mana jika aku sedih, beliau menidurkan kepalaku di pahanya yang selalu terbalut sarung batik khas Cirebon.
Aku pulang dengan membawa suatu bekal berharga darinya, walau tulisan itu tak jelas aku baca nantinya…
“Titip Doni, ya…bagaimana pun dia, orang yang paling sering dia dengar nasehatnya adalah kau!” Bu Lastri memandangku tajam.
Dan tiba-tiba…
“Aggghhhhh…aduuuuuhhhhh…susteeeerrrr sakiiit, susterrr sakiiiit…aghhhh…” teriak Bu Lastri seperti kerasukkan sambil memanggil suster. Seketika itu aku disingkirkannya untuk menghindari amukkannya. Mungkin dia tak ingin menyakitiku dengan emosinya yang sedang tak terkontrol.
Di situlah aku tahu, tadi beliau bercerita dengan meyakinkan, namun dalam beberapa jam kemudian beliau bisa sewaktu-waktu melengking tidak jelas sambil menjambak-jambak rambutnya.
Aku pulang berjalan menyusuri lorong-lorong panjang hanya dengan memandang langkah sepatuku yang selalu setia menemani perjalananku. Meninggalkan setapak demi setapak rumah indah bagi Bu Lastri. Yang sekarang mungkin sudah terbius dengan obat penenang.
***
Pak Sutono, nama suami Bu Lastri. Beberapa tahun yang lalu, Tuhan sempat menyadarkannya dengan fikiran yang jernih dari kotornya racikkan-racikkan ilmu hitam yang asap halusnya merasuk ke otak. Dia sempat melarikan diri ingin kembali pada Bu Lastri. Namun, di tengah perjalananya dia mengalami kecelakaan. Yang membuat tak wajar adalah darah yang keluar berwarna hitam dan berbau busuk. Entah, hanya kuasa Tuhan yang tahu. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari masih menunjukkan keadaan yang baik-baik saja. Beliau sangat bersemangat untuk bertemu dengan Doni anak semata wayangnya, hasil pernikahannya dengan kekasih hatinya yang belum pernah ditemuinya sejak lahir. Semangatnya untuk segera sembuh menggebu-nggebu. Namun, beberapa hari setelah dinyatakan sehat, Pak Sutono semakin menunjukkan sikap aneh. Mulai berani bertelanjang bulat, dan berjalan ke sana kemari. Ada sumber cerita, kemungkinan karena guna-guna lagi. Tapi, ada sumber lain juga yang bilang karena tak kuatnya menahan guna-guna itu sendiri, yang akhirnya merusak lahir bathinnya dan akal fikirannya.
Sesungguhnya Tuhan Maha dari Segala Maha…
Entahlah, kenapa Tuhan pun mempertemukan mereka kembali di balik tembok-tembok pagar tinggi Rumah Sakit Jiwa. Rasa saling cinta yang masih terpancar diantara keduanya tak terhalang oleh hanya sebuah ketidakwarasan belaka…
*Ficus Benghalensis : pohon beringin. *Celba Pentandra : kapuk randu. *Felis Catus : kucing. *Piper Betle : sirih. *Samanea Saman : trembesi. *Cyperus Rotundus : rumput teki. *Magnifera Indica : pohon mangga. *Phalaenopsis Amabilis : anggrek bulan.
Arie. P
11 Mei
Si Gimbul Yang Malang! #FabelEdition
Badanku gemuk, beratku saja hampir delapan kilogram di usiaku yang menginjak satu setengah tahun. Untuk berdiri saja aku susah. Sering kali aku ditertawakan bila sedang berjalan karena tubuhku yang kemayu bak peragawati bergaya di cat walk, berlenggak-lenggok ke kanan-kiri. Padahal aku bukan perempuan! Ya, benar! Aku ini kucing laki-laki. Hanya karena badanku yang subur tak jarang pula tetangga dan para tamu yang datang ke rumah majikanku bilang aku ini kucing perempuan yang sedang hamil. Karena itulah semua orang yang kenal denganku memanggilku ‘Si Gimbul’!
Hidupku sangat istimewa di rumah majikanku. Semua anggota keluarga yang ada sangat memanjakan dan menyayangiku. Aku selalu mendapatkan fasilitas nomer satu. Aku seakan menjadi kucing yang bernasib sangat beruntung sekali di dunia ini. Kawan-kawanku yang tinggal di sebelah rumahku suka iri jika melihatku. Bahkan, pernah dua kali seorang kawan lama dari jauh mendatangiku karena ingin ikut denganku, mereka curang! Dengan harapan agar majikanku mengangkatnya sebagai binatang peliharaan di rumah dan menjadi saudara baruku. Namun, aku tahu bahwa untuk menjadi anggota keluarga majikanku bukanlah hal yang mudah. Dan banyak syarat-syaratnya! Antara lain, tak boleh mencuri, mau dimandikan setiap dua hari sekali, tak boleh bermain di luar, potong kuku rutin, mau gosok gigi, tak boleh main cakar-cakaran di sofa, disiplin makan, minum vitamin dan vaksin. Semua itu dilakukan majikanku agar aku tumbuh sehat, tak mudah korengan dan tak banyak kuman serta virus-virus yang melekat di tubuhku. Satu lagi, tak boleh bermusuhan sama ‘Si Tikus’! Kalau tak menuruti semua syarat itu, siap-siap saja bakal diusir dari rumah. Seperti tiga kucing sebelumku! Aku sangat bersyukur sekali, kawan. Walau aku hanya kucing kampung, tapi aku sangat istimewa bagi mereka. Apalagi bauku yang selalu wangi setiap hari dan bulu rambutku yang berwarna putih sedikit tutul-tutul hitam terlihat sangat mengkilat. Pertanda aku kucing yang teramat sehat! Makanku pun dijaga super ketat dan selalu bersih, yang menjadikanku hampir tak pernah sakit pula. Belum lagi majikanku yang selalu melindungi aku dari kedatangan kucing yang selalu ingin mengajakku berkelahi.
Aku punya dua kawan, namanya Si Gareng dan Si Telon, kucing-kucing tetangga majikanku. Mereka semua usianya lebih tua dariku. Si Gareng dengan bulu rambut berwarna cokelat, tubuhnya kurus kering dan penuh bau tak sedap. Kotor di mana-mana, tubuhnya penuh luka-luka karena kukunya yang panjang-panjang tak jarang melukai dirinya sendiri saat dia sedang asyik menggaruk badannya. Tak Cuma itu, telinganya pun bau karena luka yang bernanah akibat cakaran jikalau dia berkelahi dengan kawan-kawannya yang lain. Dan satunya lagi Si Telon, bulu rambutnya yang cantik berwarna putih dengan sedikit bercak cokelat dan hitam. Keadaannya pun hampir sama dengan Si Gareng pula. Tak terawat!
“Wahhh…tumben kau boleh keluar, Mbul! Pasti hari ini waktumu untuk berjemur, ya?” sapa Si Telon.
“Hai…kalian, terima kasih sudah mengunjungiku ke sini. Iya, aku barusan saja mandi, nih! Apa kalian pun sudah mandi?” tanya balik Si Gimbul.
“Wah, kau beruntung punya majikan yang tak pernah malas merawatmu dan sangat menyayangimu, sedangkan kami…iya, ‘kan, Reng?” jawab Si Telon sambil sedih menatap Si Gareng.
“Iya, betul! Majikan kami terlalu menyia-nyiakan kami. Pernah kami tak pulang pun mereka tak pernah bingung dan mencari kami…” sahut Si Gareng.
“Iya, Gimbul! Nasib kami berbeda jauh denganmu! Sehari pernah kau tak pulang saja majikanmu kebingungan mencarimu ke mana-mana. Sampai-sampai mendatangi rumah majikan kami…” keluh Si Telon sambil tertunduk lesu.
“Hai, kawan…aku turut sedih dengan nasib kalian. Namun, aku tak bisa membantu banyak. Kalian tahu sendiri, bukan…kadang kala kalian diusir oleh majikanku jika ketahuan mengunjungiku di sini…” jawab Si Gimbul dengan sangat menyesal. “Keadaan kalian yang kotor tak terawat dan suka mencuri itulah yang paling dibenci oleh majikanku…” lanjut Si Gimbul.
“Yahhh…bagaimana lagi, Mbul! Siapa juga yang akan memandikan kami sepertimu. Makan pun juga kami jarang diberi. Kalau mereka sedang tak ingat kami, tak akan ada seporsi piring kecil dengan nasi bersama ikan pindang yang bisa kami santap!” jawab Si Gareng sedikit dengan nada keras. “Bagi kami ikan pindang itu sudah sangat istimewa bak makanan raja!” lanjut Si Gareng sambil membuang muka pada Si Gimbul.
“Apakah lantas seperti itu kalian jadi mencuri?” tanya Si Gimbul.
“Yah, mungkin seperti itu bila kami sudah tak bisa menahan rasa lapar kami lagi!” sahut Si Telon.
“Kau fikir kami juga mau terus-terusan makan Tikus? Binatang yang sebetulnya sangat jorok bagi kami!” Si Gareng menjawab dengan suara keras.
“Ehhh, Mbul…kau ini kacang lupa kulit! Bukankah dulu kau dipungut di jalanan dari pasar hewan? Apakah kau tidak takut jika majikanmu itu sudah tak menyayangimu suatu saat kelak?” tanya Si Telon dengan ketus.
“Betul, Telon! Dan kau akan dibuang kembali ke jalanan! Yah…akhirnya nasibmu juga akan sama seperti kami-kami ini…hahahaaaa…bukankah begitu, Telon?” Si Gareng mengejek Si Gimbul dengan tawa yang terpingkal-pingkal. “Bahkan, mungkin nasib kami lebih baik daripada kamu, Mbul! Hahahahaaaaa…” lanjut Si Gareng dengan ledekkannya.
Seketika itu wajah Gimbul berubah menjadi sedih dengan ejekkan teman-temannya. “Kawan, aku sudah siap! Aku tahu mungkin suatu saat nanti majikanku bisa juga tak sayang lagi padaku. Tapi, paling tidak aku bisa mengambil pelajaran dari majikanku. Bahwa, aku tak boleh mencuri. Dengan begitu, akan banyak orang yang akan menyayangiku…” Si Gimbul sedih dan menangis. “Lebih baik aku mengais makanan dari sisa-sisa manusia, daripada aku harus mencuri ikan di dapur mereka…bukankah itu lebih baik?” jawab Gimbul dengan percaya dirinya.
“Ahhh…sudahlah! Kami pulang dulu…” kata Si Gareng dan Si Telon bersamaan. Dengan angkuhnya mereka berdua berjalan sambil membuang muka.
Dua minggu kemudian, seperti firasat buruk bagi Si Gimbul. “Horeee…asyiiikkk…kado ulang tahunku paling istimewa! Aku bakalan punya kucing ras! Waaahhh…pasti lucu, deh! Besok sudah bisa diambil!!!” teriakan anak majikannya dengan suka cita.
Gimbul terbangun dan membelalakkan matanya seketika disaat dia sedang menikmati tidur pulasnya di sofa kesayangannya. Jantungnya berdetak kencang bercampur sedih. Tak sengaja pula dia mendengarkan obrolan anggota majikannya. Bahwa, setelah kucing baru majikannya itu datang, dia harus dipisahkan dari rumah atau pun ruangan lain. Karena kucing ras yang terkenal mewah itu tak boleh berkumpul dengan kucing kampung biasa sepertinya. Ya, tak meleset sekali dugaan Si Gareng dan Si Telon kemarin saat meledeknya. Sepertinya kali ini dia benar-benar harus angkat kaki dari rumah majikannya itu.
Esoknya…adalah hari-hari yang membuat Gimbul was-was, di mana majikannya sedang mengambil si kucing mewah itu. Dan anggota majikannya yang lain sedang sibuk membersihkan kandang baru yang sangat mahal, terdapat kasur dan bantal kecil di sudut kandang itu.
“Hai…aku beri nama kamu ‘Chiro’, bagus, ‘kan?” majikannya sudah pulang ternyata. Sambil menggendong Chiro! Jenis kucing Persia. Nama yang setara dengan kelas kucing mewah.
“Waaahhh, bulunya bagus sekali! Lucu dan menggemaskan! Pantas sang majikan lebih sayang pada Chiro. Tak seperti aku yang hanya kucing kampung. Dirawat semewah apa pun aku tetaplah kucing kampung…” Gimbul menunduk sedih dan mulai mundur pelan-pelan menjauhi kerumunan anggota majikannya yang sedang menimang-nimang Chiro, sang idola baru di rumah. Makanan Si Gimbul dan Chiro memang sama, tak berbeda. Namun semakin berjalannya waktu, sang majikan sudah lupa untuk merawat Si Gimbul seperti dulu. Belum lagi kalau Gimbul masuk rumah, selalu diusir majikannya untuk tidur di luar saja. Merasakan udara malam yang dingin menusuk tulang, hingga tak cukup hanya dengan melingkarkan badan. Hari-hari Si Gimbul hanya dipenuhi dengan cibiran-cibiran dari kedua kawannya, yaitu Si Gareng dan Si Telon. Seakan tak ada puasnya mereka selalu menertawakan Si Gimbul.
“Hai, Gimbul…benar, ‘kan? Bukannya kami sudah pernah bilang bahwa kau akan bernasib sama seperti kami…hahahaaa….sekarang rumah saja kau tak punya, Mbul…hahahaha…” spontan Si Gareng dan Si Telon tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perut mereka. “Masih lebih baik nasib kami, bukan…hahahaa…” lanjut mereka terus mencibir Si Gimbul.
Si Gimbul tak menggubris cibiran kedua kawannya itu, dia memilih berlalu begitu saja. “Ingat, tak sudi kami bersahabat denganmu…ihhh!!!” tambah Si Gareng dengan sombongnya.
Kesedihan Gimbul akhirnya membawa dia memilih keluar dari rumah majikannya. Sekarang sudah berbeda, dia tak pulang pun majikannya tak pernah lagi mencarinya mati-matian. Sesekali waktu jikalau rindu dengan majikannya, dia mencoba untuk pulang. Namun, apa yang diterimanya…dia malah diusir karena tak terawat, kotor, kurus, dan dianggap perusak kucing ras mewah itu. Sekarang Si Gimbul tak tidur di sofa mewah yang empuk lagi. Melainkan di pinggir jalan, atau di teras rumah orang yang setiap waktu lemparan batu bisa mengenai tubuhnya hingga terluka. Mungkin begitulah cara manusia mengusir kucing, tanpa perasaan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Beberapa bulan kemudian, ada kerumunan orang beramai-ramai. “Dik, bukannya itu kucing adik! Coba dilihat dulu, itu sepertinya kucing adik.” Teriak tetangga sang majikan dengan terburu-buru.
Ternyata benar! Memang itu adalah Si Gimbul, dia sudah terkapar sekarat di tengah aspal hitam karena tertabrak trailer yang beratnya lebih dari satu ton. Menurut keterangan tetangga sang majikan, Si Gimbul selalu setia menunggu di depan pagar rumah. Apabila ada majikannya pergi keluar rumah, dia selalu mengejar. Dulu majikannya selalu membawa Si Gimbul ke mana pun mereka bepergian.
Setelah mengetahui hal itu, sang majikan menyesal! Kesetiaan Si Gimbul pada majikannya ternyata membuat haru sang majikan dan para tetangga. Dan Si Gimbul pun tak pernah mencuri lauk pauk tetangga selama tak tinggal di rumah sang majikannya lagi. Hanya mengais makanan sisa di tempat sampah. Sepertinya Si Gimbul menepati janjinya untuk menjadi kucing yang baik. Karena itulah, banyak orang di luar sana yang iba melihatnya untuk memberinya makan walau ala kadarnya.
Gimbul tak dapat ditolong lagi, setelah tubuhnya kejang-kejang akhirnya dia tak bernafas terbujur diam dan kaku. Hidup pun pasti dia akan cacat dengan keempat kakinya yang hancur. Gimbul dikuburkan di kebun belakang rumah sang majikan. Setelah kejadian itu, sang majikan tak pernah menyia-nyiakan kucing kampung lagi yang terkadang tanpa sengaja datang ke rumahnya. Justru malah merawatnya dengan baik. Jenis kucing apa pun bisa menjadi sahabat bila kita sama-sama adil memberikan kasih sayang.
Dari cerita ini, Si Gimbul saja mempunyai perasaan sayang kepada sang majikan dan kesetiaan yang luar biasa. Dia tak pernah lupa dengan majikan yang pernah merawatnya dan menyayanginya. Semua makhluk ciptaan Tuhan pasti akan dianugerahi perasaan kasih sayang. Mudah-mudahan kita bisa mengambil nilai positifnya, bagi para pembaca.
Jangan mudah melupakan dan menyia-nyiakan segala sesuatu yang pernah ada di kehidupan kita sebelum hari ini. Karena hari kemarin, hari ini menjadi lebih indah dan berwarna. Tetap Bersyukur!
Arie. P
5 Mei
Pak Rohadi, Penarik Gerobak Sampah…
“Mama…yuk, cepet!” Anak cintaku yang merasakan hari pertamanya ikut sholat di masjid dengan baju barunya terlihat riang dan amat begitu bahagianya. Sebetulnya hari itu bukan kali pertama dia ke masjid, tapi hanya karena baju, sarung dan kopyahnya yang baru dia tak henti-hentinya memberikanku sebuah senyuman. Menggandeng tanganku sambil sesekali memandang wajahku dengan mengulas senyum manisnya. Dengan memakai baju taqwa, sarung dan kopyah baru untuk pertama kalinya bagi dia yang membuatnya seakan hari itu adalah hari yang sangat special. Sedari tadi pandangannya hanya tertuju pada sarung yang dipakainya. Dengan langkah yang sedikit rewel namun tawa kecilnya yang lucu membuatku menggelak tawa pula menyaksikan tingkah lakunya. Dan sesekali pula merapikan kopyah yang mungkin masih kebesaran untuk ukuran kepalanya.
“Mama…dah cakep?” tanya lugu dari seorang anak yang belum genap berusia dua tahun. Aku hanya tertawa kecil sambil mencubit pipinya bak kue apem.
“Sudah, nak…! Kalau Mama sudah cantik belum?”
“Mama cudah antik…” (Mama sudah cantik). Sahutnya begitu lucu, kami berdua bergandengan tangan menuju sebuah masjid yang tak jauh dari rumah kami. Kurang lebih hanya 300 meter dari belakang rumah kami.
Kala itu masih tercium aroma hujan yang serasa baru saja dia lelah menggemparkan rintikkan air yang membasahi alam tempat kami berpijak. Dan sekarang awan itu sedang beristirahat, seakan tahu bahwa kami akan menunaikan kewajiban kami sehingga dia tak ingin membuat langkah kami basah sambil kami berlari-lari untuk menghindarinya. Dia memberi waktu kami untuk kami bisa mengobrol dengan Tuhan kami yang menjadi Tuhannya juga. Alam memang lebih pengertian terkadang kepada kehidupan manusia, asal kita selalu menyapanya dengan kehangatan.
Santainya aku melangkahkan kakiku, karena langkah anak cintaku lebih kecil. Aku tak mau dia ribet sekali mengatur jalannya di atas aspal yang licin dan sedikit becek karena hujan. Aku berniat berangkat lebih awal agar kami tak terburu untuk mengikuti sholat magrib kala itu. Alunan adzan yang sangat mendengung mesra seakan ingin mengajak bercumbu dengan banyak jama’ah-jama’ah yang lain. Memanggil-manggil seakan ada sesuatu hal yang akan dihadiahkan kepada kami di kala kami memenuhi panggilan-Nya.
“Mama…cudah Awwohu akbal…” (Mama, sudah Allohu Akbar).
Anak cintaku selalu membuat aku tergesa-gesa untuk segera berangkat jikalau adzan sudah mengaung-ngaung memanggil kami dengan bisikan terindahnya. Karena jika aku tak mengindahkannya dia bakalan pergi berlari sendiri.
Kala itu, sepanjang perjalanan kami melangkahkan kaki, aroma segarnya hujan masih sangat kuat tercium diiringi oleh belaian angin yang hanya ingin sedikit bermain-main menyapa kami. Sepanjang jalan yang kami lalui pun ramai dengan perumahan yang banyak berhiaskan Cyperus Rotundus. Alangkah indahnya seakan berkelap-kelip karena pantulan embun bercampur tetesan air hujan sedang berpelukan di atas dedaunan yang serempak berwarna hijau itu. Belum lagi bak prajurit yang sedang berbaris rapi di tepi jalan, Polyalthea Longifolia Pendula. Mereka terlihat begitu serempak seperti penari yang sangat lihai meliuk-liukkan badannya yang semakin tinggi akan tampak semampai nan sexy. Seakan sedang menyambut kedatangan kami di rumah nan suci.
Sampai kami memasuki halaman masjid yang indah nan megah dengan ribuan lampu kristal. Seolah sambutan tepuk tangan si Jasminus Sambae sangat senang dengan kedatangan kami. Wajahnya begitu berseri putih lembut. Belum lagi wanginya yang mengalahkan wangi kembang tujuh rupa. Diringi oleh celetuk anakku, “Mama…cudah ampek majid!” (Mama, sudah sampai masjid!).
“Mama…kembangnya hemmm haluuummm…” (Mama, kembangnya hemmm harum). Celoteh anakku sambil tertawa dengan berunjuk giginya yang mungil tertata putih rapi. Seputih Jasminus Sambae.
Namun, tiba-tiba setelah kami hendak memasuki masjid dan memutar arah ke kiri karena kami ingin mencuci kaki kami terlebih dulu, di situlah celetuk anak cintaku berubah.
“Heeemmm…Mama, bau…hemmm…bau, Mama!!!” sambil anak cintaku menutup hidungnya.
Iya, seperti bau sampah. Ternyata di pojok kiri tembok halaman masjid, ada seorang Bapak tua yang sedang berganti baju. Dan pekerjaan dia sebagai pengambil sampah-sampah rumah tangga. Aku tak pernah melihat Bapak tua itu sebelumnya. Baru kali ini kami dipertemukan. Ada gerobak sampah berwarna kuning di sudut sana. Kami segera memotong perhatian kami dan bergegas untuk mensucikan kaki kami dulu, sambil aku menggandeng anak cintaku.
“Dek, ini nanti untuk infaq. Nanti masukin ke kotak warna hijau itu, ya? Dedek yang masukin…”
“He’ehmmm…” jawab anakku singkat.
Setelah selesai, kami berputar kembali untuk lewat pintu depan masjid.
“Hemmm…Mamaaa! Bauuuu!!! Gak enak…” sambil anak cintaku menutup hidungnya kembali.
Ternyata tepat di belakang kami Bapak tua yang tadi kami perhatikan di ujung tembok masjid sedang berjalan beriringan dengan kami. Sedikit bongkok dan kurus sekali. Aku menahan anak cintaku agar Bapak itu berjalan mendahului kami.
“Dedek, nggak boleh bilang kayak gitu!!! Mama nggak suka, ah! Dosa! Diem saja…” ujarku pada anak cintaku yang sebetulnya dia belum tahu boleh atau tidak boleh. Namun, aku malu karena suara anakku terdengar oleh Bapak tua itu sampai-sampai beliau tersenyum dan menundukkan kepala ke kami.
“Apa, Mamaaaa….?” tanya anakku.
“Ya itu tadi! Dedek nggak boleh ngomong keras-keras kayak gitu. Nanti dimarahi Tuhan!” aku berusaha memberi pengertian pada anak cintaku.
Saat itu Bapak tua itu pun hampir bersamaan dengan kami memasukkan infaq di kotak berwarna hijau dekat pintu masuk ruangan masjid.
“Mama. Dedek Ama macukin, ya…?” (Mama, Dedek Rama yang masukin, ya?).
“Bentar sayang, gantian, ya…?” aku sambil menahan anakku untuk sabar bergantian. Anakku yang dari tadi bingung dengan sarungnya yang berlari ke sana kemari.
Tapi, apa yang aku saksikan sangat mengejutkan. Maklum, tubuh Bapak tua itu tak bisa cepat dalam beraktifitas. Jadi, kami menunggunya dulu sebentar untuk bergantian. Penampilan yang teramat sangat sederhana. Sarung yang sudah tak jelas warnanya dan banyak lubang. Baju taqwa yang tak bisa lagi dibilang berwarna putih, dan kopyah yang sudah usang seperti sudah puluhan tahun.
Pelan-pelan beliau mengambil kopyahnya. Dan di balik kopyah tersebut beliau mengeluarkan selembar uang berwarna merah mewah. Yah! Betul! Selembar uang seratus ribu. Dengan dilipat rapi dan perlahan beliau memasukkannya dalam kotak infaq tersebut dengan berucap, “Bissmillahirrohmannirrohiimmm…”
Aku melotot seketika itu. Entah, bagaimana rasanya aku tak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Setelahnya, beliau menoleh kepada kami berdua dan menganggukkan kepalanya. Aku langsung malu seketika itu.
“Mama, macukin?” (Mama, masukin?). Tanya anakku.
“Iya, sayang! Sudah, cepet masukkan ke kotak itu!” ujarku.
Hatiku bagai teriris. Perbandingan yang sangat jauh. Aku hanya bermodal selembar lima ribuan dan beliau bermodal selembar seratus ribu. Hatiku seperti dicambuk dan sangat malu. Ternyata Bapak tua yang mungkin banyak disepelekan orang itu jauh lebih kaya dari kemampuan orang-orang yang dianggap lebih dari cukup seperti kita. Andai aku bertemu dengan beliau kembali aku pasti tidak akan mampu menatapnya karena rasa maluku dengan penampilanku sendiri.
Hingga sholat berlangsung aku tak pernah bisa khusyuk menghadap-Nya. Karena diselimuti perasaan yang terheran-heran dan penuh tanda tanya tentang sosok beliau yang sudah mengingatkanku dengan sikapnya. Sampai aku mengakhiri ibadah, dan berjalan keluar dari masjid bersama anak cintaku, aku tak bertemu dengan Bapak tua itu lagi. Namun, gerobak sampah itu masih ada di pojok tembok masjid seperti semula. Aku mulai bertanya kepada orang di sekitar situ tentang Bapak tua itu. Dan mereka menuturkan bahwa memang gerobak sampah itu sering dititipkan di situ untuk esok paginya dipakai bekerja. Tidak ada yang tahu siapa nama Bapak tua itu. Untuk sementara aku mengakhiri rasa penasaranku.
“Mama! Ayo pulang…” anak cintaku sudah mulai merengek menarik tanganku dan mengajak agar kami bersegera pulang.
“Iya, sayang. Yuk!” ajakku dengan bergegas.
Dalam perjalanan pulang aku tak menghiraukan sapaan kawan lama alam yang menyapaku layaknya seperti kedatanganku tadi. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah bersama anakku. Mudah-mudahan esok kami bisa bertemu dengan beliau kembali dan aku bisa mengenalnya.
***
Empat hari sudah aku tak pernah bertemu dengan Bapak tua itu. Bahkan beberapa hari terakhir kemarin malah gerobak sampah itu sudah tak terparkir di sudut tembok masjid. Aku berharap bahwa hari kelima ini aku bisa bertemu kembali dengan beliau. Seperti biasanya, kami kembali mendatangi masjid itu. Kali ini anak cintaku ikut bersama Papanya di barisan laki-laki. Ketika hendak memasuki masjid, aku bahagia mengulas senyum lebar. Ternyata gerobak sampah itu ada di pojok tembok masjid kali ini, sama seperti waktu semula beliau meletakkannya. Dari jauh anak cintaku sambil menoleh kepadaku dan melambaikan tangannya, karena kami berpisah tempat. Dan aku sendiri sibuk memperhatikan Bapak tua itu dengan seksama. Aku sengaja untuk berangkat jauh lebih awal agar aku bisa bertemu dengan beliau. Masih sama keadaannya seperti pertama aku bertemu dengan beliau kemarin-kemarin. Beliau memakai baju yang masih sama dan belum ganti sama sekali. Dengan baju, sarung dan kopyah yang seakan memang tak pernah ganti sejak terakhir pertemuan kami. Untunglah tak ada anakku di sini. Andai dia tahu lagi pasti akan berteriak dan bilang bau yang tak sedap. Mau dibuat malu seperti apalagi mukaku. Pelan-pelan aku berjalan di belakang beliau. Tak pernah terlewati, beliau berhenti lagi di kotak infaq tersebut, aku semakin bergetar menanti giliran sambil mataku sedikit meliriknya. Mungkin yang keluar tetap lembaran seratus ribuan lagi. Ibarat kartu AS baginya. Kali ini tidak seperti kemarin! Bapak tua itu mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, dilipat rapi dan dimasukkan perlahan sambil berucap, “Bismillahirrohmannirrohiimmm…”
Nyaliku jadi ciut! Sebetulnya apa rahasia Bapak ini hingga bisa memiliki tabungan akhirat yang banyak sekali. Sekali lagi, beliau menoleh ke belakang dan menganggukkan kepalanya kepadaku sambil tersenyum begitu santun. Aku membalas senyuman pula, namun sesudah kami menjalankan ibadah belum sempat aku bertanya nama kepada beliau. Lagi-lagi aku kehilangan jejaknya, gerobak itu tetap terparkir di sana namun beliau tidak aku temukan di masjid. Aku mencoba untuk bertanya kepada seorang tukang becak yang sedang mangkal di depan masjid. Dan akhirnya aku mengetahui namanya. Beliau bernama Pak Rohadi. Jika sudah menjelang malam, beliau menjadi tukang parkir di tengah kota. Berlega hati rasanya sudah mendapatkan nama yang aku tunggu selama ini. Jadi ada kebanggaan saja jika aku bisa menyapa dengan menyebutkan namanya. Nama seseorang yang bisa aku bilang kakek ini.
“Ayo, sayang! Nungguin apa?” hadir suamiku yang mengejutkanku kala itu.
“Yuk, pulang…” ajak beliau sambil menggendong anak kami.
Setelah sesampaiku di rumah, aku bergegas membuka almari pakaian suamiku. Di situ terdapat oleh-oleh dari Mama dan Papaku semasa beliau menginjakkan kaki ke tanah suci. Sepasang sarung dan baju taqwa serta kopyah mewah berhiaskan kristal dan benang emas. Belum dipakai sama sekali oleh suamiku. Aku berkali-kali membolak-baliknya. Ingin sekali aku hadiahkan kepada seseorang yang mungkin hanya punya satu baju. Walau pun sementara aku hanya bisa memberinya sepasang saja, tapi mungkin dengan ini bisa memperbaiki sedikit penampilannya jikalau Pak Rohadi menunaikan sholat ke masjid besar itu.
“Kenapa, sayang?” tiba-tiba suamiku memelukku dari belakang.
“Kenapa? Mau dikasihkan ke Bapak tua tadi, ya?” sambil berbisik mesra di daun telingaku.
Aku tak bisa menjawabnya. Pasti kenang-kenangan itu sangat berharga sekali bagi suamiku. Belum sempat aku menjawabnya, “Kalau kamu suka itu untuk diberikan ke Bapak tua tadi. Kasihkan saja…terserah kamu…” sahutnya dari belakangku.
“Nanti kalau bertemu kembali dengan beliau, undanglah untuk makan bersama kita di rumah, sayang…”
Jawaban suamiku membuat girang hatiku dan menciptakan sebuah senyuman bangga dengan sesuatu yang ingin aku lakukan untuk orang seperti Pak Rohadi. Aku membalikkan badanku dan tak bisa berkata apa-apa kepada beliau, suamiku. Aku hanya tersenyum saja tanda terima kasihku kepada beliau. Dan beliau memelukku dengan erat pula.
***
Keesokan harinya, seperti biasa menjelang petang aku selalu berharap kali ini aku dipertemukan dengan Pak Rohadi kembali. Kami bertiga berjalan beriringan sambil sesekali mengajak canda anak cinta kami. Hari ini bagai aura yang positif untukku, langkah kakiku seperti mengambang di atas angin, sangat bahagia. Aku buru-buru menengok gerobak di pojok tembok masjid itu. Ternyata masih ada, beliau pasti akan dipertemukan kembali denganku. Kali ini pemandanganku berbeda lagi…
“Sayang, hati-hati…” putus suamiku dengan menggandeng anak kami, karena area yang harus terpisah.
Kali ini pemandangan yang aku saksikan, Pak Rohadi berjongkok di anak tangga menuju ruangan utama dekat kotak infaq itu. Aku tak begitu jelas beliau sedang apa. Aku berjalan sedikit menghampirinya, karena ingin menyapanya sekaligus mengundanganya untuk makan di rumah kami. Ternyata beliau sedang menata uang seribuan yang lusuh bercampur sepuluh ribuan dan sedikit dua puluh ribuan. Beliau sambil berucap sendiri kala itu, “Ya Alloh, hari ini…inilah rezekiku dengan uang yang lusuh untuk kali ini. Aku ikhlas menolong orang tadi. Ya Alloh, mudah-mudahan besok Engkau menggantikanku rezeki yang lebih besar lagi seperti sebelum-sebelumnya. Agar aku bisa beramal lebih banyak di sini…”
Mataku sudah mulai berkaca-kaca menyaksikan pemandangan itu. Beliau seakan hanya mengumpulkan sedikit demi sedikit uangnya hanya untuk hal yang benar-benar bermanfaat.
“Pak Rohadi, ya?” aku memberanikan saja untuk langsung bertanya kepada beliau.
“Iya, neng, betul! Neng yang biasanya sama anaknya yang kecil itu, ya?” balik bertanya kepadaku.
“Iya, Pak. Betul!” aku sambil tersenyum.
“Tahu nama saya dari mana, neng?” sangat santun sekali dalam berbicara.
“Dari orang-orang sekitar sini, Pak…” jawabku singkat.
“Pak Rohadi setelah ini mau bekerja lagi, ya?” tanyaku.
“Iya, neng! Cari tambahan jadi juru parkir di ujung kota sana.” jawabnya sambil tersenyum tertunduk.
“Pak, nanti sehabis sholat jangan keburu pulang dulu, ya? Tunggu saya dan suami saya di sini sebentar. Saya ada perlu mau minta tolong…” ajakku.
“Oh…iya, neng. Boleh…boleh…” dengan sangat santun beliau mengiyakan pintaku.
“Ya sudah, saya tinggal masuk dulu, ya, Pak?” pamitku.
“Mangga, neng!” menganggukkan kepala sambil mempersilahkan.
***
Setengah jam kemudian aku, suamiku dan anak cintaku berkumpul di depan pagar depan masjid menanti Pak Rohadi yang sepertinya belum keluar dari masjid. Dan tak lama kemudian, Pak Rohadi menghampiri kami bertiga sambil bersalaman kepada kami.
“Pak, yuk, ikut kami ke rumah! Aku mengundang Bapak untuk makan bersama kami di rumah. Jangan ditolak, ya, Pak?” pintaku.
Pak Rohadi serasa bingung dan bercampur tak enak karena malu dengan penampilannya.
“Waduh, saya kotor…” ucapnya.
“Sudah nggak apa-apa! Ayo, yuk…silahkan barengan kami…” sambung suamiku mengajaknya dengan ramah.
Sambil hanya menganggukkan kepala tanda ‘iya’ beliau kemudian bergegas melangkahkan kaki bersama-sama kami berempat. Sambil sedikit kami mengobrol dan canda dengan beliau. Itu adalah kenangan terindah dari kami untuk beliau. Dan kenangan terindah yang beliau berikan kepada kami. Aku teringat dengan almarhum kakekku yang sepuluh tahun silam sudah kembali ke rahmatulloh.
Pak Rohadi…itu adalah sepenggal perjalanan hidup. Dan banyak pelajaran yang terkadang bisa aku ambil dari beliau. Aku mengerti beliau orang yang lugu. Namun, bicaranya yang apa adanya itulah yang membuat aku menangis bila ingat kepadanya. Saat itu merupakan kenangan kami yang pertama dan terakhir dengan beliau. Sebelum dua minggu kemudian beliau dipanggil Yang Maha Kuasa.
***
Undangan kami ke rumah adalah hal yang paling membuat beliau bahagia. Dan baru kali ini beliau serasa mempunyai sebuah keluarga yang teramat peduli padanya. Banyak hal yang kami obrolkan disaat kami makan dalam satu meja bersama-sama. Selayaknya keluarga dan kesetiakawanan. Yang paling aku ingat darinya adalah disaat aku jujur mengatakan bahwa aku malu dengan beliau saat aku membandingkan infaqnya dengan infaqku, walau aku tahu tak bijaksana sekali sikapku. Dan beliau berkata…
“Hehehe…saya ini nggak punya tabungan di Bank. Kalau nabung di rumah uang hanya dikumpulkan saja buat apa. Mau usaha juga usaha apa? Saya sudah tua. Apalagi yang saya cari? Menurut saya, tabungan yang lebih abadi ya dengan saya banyak infaq. Jadi, itulah tabungan saya. Saya nggak punya apa-apa, cu…”
Itu pesan yang paling berkesan buatku yang pertama. Dan yang kedua saat aku memberikan hadiah untuk beliau berupa baju, sarung, dan kopyah.
“Cu, menurut saya ini terlalu mahal. Nggak pantes sudah tua pakai barang beginian…”
Walau menolak, namun berkat bujukkan suamiku, Pak Rohadi mau menerimanya. Kami pun tak pernah tahu dengan usia. Yang kami ingat, beliau sempat berkata…
“Cu, nggak menyesal kasih saya ini. Takutnya nanti saya nggak bisa lama pakainya…”
Entah, apakah itu semacam firasat bagi kami semua. Namun, Pak Rohadi tetaplah orang yang sangat kami segani…
Beliau hanyalah orang teraniaya. Yang tak punya keluarga, pekerjaan yang dilakoni dengan penuh keikhlasan berapa pun upahnya. Anak dan istri sudah lama meninggal karena penyakit yang tidak pernah jelas. Pak Rohadi meninggal tepat setelah sholat magrib sepulang dari masjid. Tanpa tanda-tanda sakit sebelumnya. Terakhir pamit ke kami, beliau hanya ingin pulang ke gubuknya dengan cepat, karena agak lelah seharian bekerja saat itu. Dan itulah pertemuan kami yang terakhir dengan beliau. Kakek berusia 70 tahun itu sekarang hanya bias kenangan bagiku dan suamiku.
Sejak itulah, rasa rinduku untuk menengok gerobak sampah selalu menjadi kebiasaan setiap kali aku mengunjungi masjid bersama keluargaku. Padahal, di ujung pojok tembok masjid sudah tak ada lagi gerobak sampah yang biasanya membuat anak cintaku berteriak karena baunya yang tak sedap.
Kalau boleh aku bilang, Tuhan mendatangkan rezeki pada kita berupa apa pun yang bisa dinikmati keberadaannya. Termasuk bertambah saudara pun adalah suatu rezeki. Kadang orang-orang tak terduga berkenalan dengan kita banyak memberi manfaat, kesan, serta pelajaran yang baik yang dapat kita tiru. Harapan kita lebih lama berdekatan dan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Namun, justru orang yang memberikan kesan yang mendalam dan singkat terkadang Alloh lebih cepat mengambilnya. Rasa kehilangan kita terhadap orang semacam ini lebih menyedihkan, daripada kehilangan orang yang telah puluhan tahun kita kenal namun tak pernah memberikan sesuatu yang berkesan bagi kita.
Aku selalu menangis mengusap air mataku bila ujung jari kakiku saudah mulai memasuki halaman masjid. Tak sempat lama aku ingin membuat senang hati Pak Rohadi.
“Sudahhhh…yuk, masuk sayang!” ujar suamiku sambil menggandengku dan anak cinta kami untuk masuk ke masjid.
Pak Rohadi belum menepati janjinya untuk membersihkan kaleng-kaleng susu anakku yang sudah banyak bertumpukkan di kebun belakang rumah kami. Padahal itu bisa menjadi sumber penghasilan tambahan untuk beliau. Namun, memang Tuhan sudah berkehendak lain.
***
Kurang lebih satu bulan kemudian, ada seorang anak laki-laki remaja mendatangi rumah. Aku tak kenal dengannya.
“Ibu yang kenal Pak Rohadi yang sering bawa gerobak sampah di masjid, ya?” tanya dengan sangat sopan.
“Iya, dik! Kenapa? Pak Rohadi almarhum itu, kan?” jawabku heran.
“Bu, maaf…saya baru ada waktu ke sini. Saya Asep, dulu biasa bantu Pak Rohadi.” Asep memperkenalkan dirinya.
“Ooohhh…silahkan, duduk dulu, yuk!” ajakku bersemangat sambil menyuruhnya duduk di teras depan rumah.
“Bentar, tak buatkan minum dulu, ya?”
“Oh, terima kasih, Bu…” sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.
Aku memandang dari balik kaca. Anak yang begitu sederhana pula dilihat. Sopan santun dalam sikap dan bicaranya.
“Dik, ayo, silahkan diminum!”
“Iya, Bu! Terima kasih…” jawabnya.
“Ini, saya ke sini cuma mau mengasihkan ini. Permintaan Pak Rohadi sebelum meninggal.” Sambil Asep menyerahkan bungkusan koran yang dimasukkan ke dalam plastik hitam.
Aku buka bungkusan itu, dan ternyata isinya baju, sarung dan peci atau kopyah yang aku hadiahkan untuk beliau saat itu.
“Lho, kenapa kok dikembalikan?”
“Nggak ngerti, Bu! Beliau hanya pesan suruh kasihkan orang lain yang juga butuh seperti beliau! Beliau kan hanya memakainya sebentar katanya.” sambung Asep.
“Bu, saya permisi dulu. Terima kasih, minumnya. Sudah ditunggu Ibu saya buat bantu di warung sana soalnya…” sambil Asep mengulurkan tangan meminta pamit kepadaku.
“Begitu, ya…ya sudah, terima kasih banyak, ya, dik?”
“Iya, maaf, Bu. Permisi…” Asep menganggukkan kepala dan langsung berlalu meninggalkan halaman rumah dengan langkah yang tergesa-gesa.
Seketika itu aku rindu dengan beliau. Akhirnya baju ini kembali lagi ke rumah keluarga kami. Bagiku seakan beliau hanya meminjamnya sebentar saja dari kami.
Baju itu aku tata rapi kembali di almari. Dan sesekali waktu pernah mengeluarkan aroma wangi Jasminus Sambae. Padahal, tak ada tanaman itu di rumahku. Wanginya sama seperti di masjid, hanya ini sebatas di ruangan kamar saja. Aku yang selama ini mencium bau sampah dari tubuhnya yang kurus kering, dan sekarang baju yang pernah dipakainya berganti dengan aroma yang sangat wangi. Perasaan merinding tak hanya melandaku, namun juga melanda suamiku pula. Bahkan suamiku yang sering sekali dihampiri oleh aroma itu.
“Mama…baunya angi…” (Mama, baunya wangi).
Terkadang sering sekali anakku menyampaikan hal itu padaku. Dan aku hanya tersenyum saja melihat celetuknya.
“Iya, nggak apa-apa, enak ya baunya, dik? Kayak bajunya dedek, ya?” hiburku.
Aku selalu mengatasinya dengan positif. Mungkin karena Pak Rohadi adalah orang yang begitu baik dan mempunyai banyak amal yang Tuhan terima karena keikhlasannya menjalani hidup yang menurut pandangan kami sangat berat. Bahkan kami belum tentu mampu menjalaninya seperti beliau. Menahan lapar dan haus hanya karena ingin menabung untuk berinfaq. Dan dengan cara seperti inilah Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya pada keluarga kami. Tidak ada yang tidak mungkin untuk tidak kita percayai dari kebesaran-Nya. Subhanalloh!
Rahasia Pak Rohadi bisa menyisihkan tabungan akhirat menurutku hanya satu, keikhlasan akan ketulusannya menjalankan sesuatu dalam hidupnya yang sudah Tuhan gariskan padanya. Dan dengan niat yang baiklah semua bisa dia wujudkan…
Selamat jalan, Pak Rohadi…mudah-mudahan beliau termasuk bagian dari orang-orang penghuni surga…
* Cyperus Rotundus : rumput teki. * Polyalthea Longifolia Pendula : glodokan tiang. * Jasminus Sambae : melati putih.
Arie. P
2 Mei
Sahabat Di Sudut Jiwa Yang Tak Terungkap…
Perkenalkan, ‘aku’ adalah ‘aku’. Sebuah nama yang tak begitu penting untuk diungkap. Namun, atas nama ‘aku’, aku ingin menyampaikan sesuatu percikkan rasa tentang ‘aku’. Aku ingin meluapkan apiku dari segala getaran rasa yang pahit bak kopi hitam. Tanpa manis walau serpihan butir gula pasir tercelup di dalam wadah kopi yang antik nan cantik. Ukiran emas cangkir khas Belanda itulah senyumku, bentuknya yang sexy gemulai dengan satu daun telinga itulah belaianku yang pincang, dan aroma khas kopiku adalah rasa dingin diantara kepulan hawa panas yang keluar dari segala pahit rasa sehingga tanpa rasa, hampa!
‘Aku!’ dia adalah seorang sahabat bayangan masa laluku. Yang selalu mendatangiku dengan egois dan menuntutku untuk menuliskan sesuatu tentang bocornya dinding hatinya karena virus yang menjadi kelemahan jiwa-jiwa yang berhati dingin bagai es di kutub utara-selatan. Aku bingung menyikapi sahabatku ini, aku berusaha menghindar sampai berpindah kota karena aku tak sanggup memenuhi keinginan egoisnya padaku. Semua orang yang mempunyai nama ‘aku’ pasti akan egois dalam hidupnya. Seperti yang aku alami, semakin bertambah angka dalam hidupku dia semakin merajalela kepadaku. Layaknya yang aku bilang bahwa hatinya bagai es kutub utara-selatan, begitu kokoh, bahkan ketebalannya susah sekali bagi siapa pun untuk menghancurkannya. Namun, tidakkah bisa kau bayangkang jika es itu retak? Iya! Kau benar sekali, tak ada kekuatan supranatural pun yang dapat membuat es-ku kembali sebening semula, begitu halus dan tanpa hancur. Es yang semula sangat indah terbentuk karena kealamian alam dan kekuatan takdir Tuhan menjadi tak sempurna. Semua hanya karena ‘aku’ yang begitu ceroboh dalam hadirku!
Aku lelah dengan ‘aku’ yang selalu mengejarku. Sebetulnya, apa keinginan dia padaku? Tidak adakah orang lain yang bisa dia usik selain aku? Membuat aku berfikir keras agar aku mampu berkata-kata saat menemuinya nanti. Mungkin kali ini aku akan mampu menemuinya dengan berani, tanpa takut dan enggan seperti beberapa tahun yang lalu.
***
Surabaya, awal 2002.
Di sinilah sahabatku yang bernama ‘aku’ berkisah padaku. Di dalam perih dan sedihnya aku dengan seksama mendengarkan dia berceloteh kepadaku. Seperti biasa, di café kopi langganan kami berdua dia sudah memesan tempat tercinta walau hanya untuk duduk menikmati secangkirnya. Iya, lampu bagai binar sang surya menyinari masuknya malam dengan begitu aneka ragam rakyat merakyat di Kota Pahlawan itu. Mungkin di kota besar menghabiskan waktu dengan sendiri untuk menyeruput pahitnya kopi sudah biasa. Tak lain semua itu hanya untuk menjaga image dari segala bentuk kepribadian yang elegant dan gaya hidup karir. Merupakan pemandangan yang sangat biasa sekali untuk sendiri, bersendiri dalam kesendirian. Gadget adalah pendamping hidup yang paling setia menemani, karena dia tak pernah protes mesti terikat suatu pernikahan. Karena bisa dibuang kapan pun jika kita tak mencintainya. Mana mungkin seseorang bisa dibilang kesepian jika sebuah gadget bisa memberikan hiburan disaat kepenatan melanda? Harga kekasih jadi turun pamor karena kalah dengan pesaing sejatinya.
“Sudahkah kau siap untuk mendengarkan ceritaku? Jauh-jauh sudah kau datang kemari hanya untuk meluangkan waktu menemuiku.” tanya ‘aku’ padaku.
“Hai ‘aku’! Kalau bukan karena aku menyayangimu tak mungkin aku sanggup mengeluarkan seluruh energiku hanya untuk kembali ke masamu. Bukankah kau tahu, aku sangat mencintai masa depanku! Walau masa laluku mungkin teramat membahagiakan bagiku, tapi bukankah kau tahu aku tak mampu untuk berkhianat?” aku menjawabnya dengan kelembutan setan seperti belaian jemari lentikku di bibir cangkir karena lipstik yang tertinggal di sana.
“Dengarkan baik-baik ceritaku! Kau boleh tertidur asal disaat terbangun kau sanggup menyampaikannya kepada seseorang yang aku kenal, tapi tak kau kenal…!” si ‘aku’ dengan wajah dinginnya memandangku sinis tanpa senyum. Bibir kecut tanpa rona membuat aku terkadang malas berbincang dengannya.
“Kau tak perlu khawatir! Kali ini aku pasti akan menyampaikan kisahmu padanya! Jika aku nanti bertemu dengannya kembali. Bukankan kau selalu percaya padaku, ‘aku’?” pandangan mataku kali ini memunculkan keberanian untuk tak kalah dingin dengan ‘aku’.
***
Cerita dari sudut ‘aku’, dia sahabat masa laluku yang akan aku sampaikan untuk sebuah nama ‘Iyan’…
Sesosok lelaki yang tak begitu special. Aku kurang bisa menggambarkannya secara detail. Karena apa yang diutarakan sahabatku memang benar. Iyan adalah sosok yang sangat dia kenal, sedangkan aku tidak pernah mengenalnya. Pertemuan itu berawal sepuluh tahun yang lalu.
“Kenalkan, Iyan!” sosok laki-laki itu memberikan senyuman pertamanya yang hangat. Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebelum berjabat tangan dengan Ica. Nama cantik dari sosok ‘aku’.
“Hai, Ica!” membalas jabat tangan pula dengan antusias.
“Masuklah! Maaf, kotor, Iyan…” Ica mempersilahkan seorang sahabat baru yang datang tanpa basa basi itu. Tanpa permisi pula memasuki kehidupannya sebagai seorang teman yang tanpa sengaja terbawa oleh teman lawas Ica. Sebut saja Indra.
“Ehm…aku ambilkan minum dulu!”
“Ca, air putih saja!” ujar Iyan saat Ica akan bergegas ke dapur belakang.
“Oh, okay!” sambil berlalu dengan senyum kepada Iyan.
Namun, dalam perasaan Ica tersimpan kekesalan akan sikap Indra yang membawa teman baru untuk datang ke rumahnya. Ica memang tak sembarangan berkenalan dengan seorang laki-laki. Dalam hatinya sudah mengancam akan marah dengan Indra. Indra adalah sahabat Ica sewaktu mereka duduk di bangku SMA. Mereka sudah lama akrab dan satu bangku dalam kesehariannya.
“Ini, silahkan!”
“Iya, terima kasih!” jawab Iyan sambil sekali lagi dengan ciri khasnya menggosok-gosokkan telapak tangannya.
Seperti bercampur malu karena baru pertama berkenalan pula dengan Ica. Indra yang sedang tidak asyik dengan obrolan, dia malah asyik dengan tugas-tugas kampusnya. Anak jurusan arsitek di sebuah Perguruan Tinggi Swasta itu selalu serius jika berhubungan dengan study. Sebetulnya Ica dan Indra sudah membuat janji karena Indra yang butuh bantuan tentang desain eksterior. Kemampuan Ica dengan gambar menggambar memang Indra sudah tahu sejak mereka berteman. Walau Ica bukan di jurusan yang sama dengan dengan Indra.
“Ca, ini tugasnya! Kamu bantuin, ya? Aku lagi banyak tugas, nih!” Indra sambil memberikan gulungan kertas kalkir berukuran A3.
Ini kesempatan Ica untuk membalas kekesalannya pada Indra.
“Lihat saja! Nggak bakalan aku bantuin, deh!” gerutu Ica dalam hatinya.
Obrolan kami bertiga akhirnya renyah bak keripik singkong. Mulai mengalir tawa dan canda, Ica pun dan Iyan mulai saling bertanya dan mengenal satu sama lain. Ica tak ada rasa simpatik dengan Iyan. Maklum, penampilan yang acak-acakkan dengan rambut gondrong, wajah brewok dan celana jeans belel. Bau rokok dari bajunya yang terbang terkena angin semilir teras rumah seakan berjoget ria penuh ejekan karena tahu Ica yang paling anti bau rokok.
Sepertinya Iyan sosok yang tak banyak bicara. Terlihat lebih banyak Ica yang bertanya tentang pribadinya. Sebetulnya sopan, tapi cara penampilannya yang tak terkesan bersih dan rapi itu membuat Ica agak merinding.
“Mudah-mudahan aku nggak akan bertemu dia lagi…” sekali lagi batin Ica berkata tentang Iyan.
“Okay, Ca…aku balik dululah! Jangan lupa pesananku, ya?” Indra bergegas pamit pulang. Maklum jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
Dan tak ada kata-kata dari Iyan sama sekali saat akan pulang. Dia hanya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ica bersama senyuman manisnya.
Mungkin itu gambaran yang dapat aku tangkap dari seorang Ica di pertemuan pertamanya dengan Iyan. Iyan, mungkin sosok yang terkesan cuek dan amburadul. Dia pendatang dari luar Pulau Jawa yang merantau menuntut ilmu di kota ini. Kulit yang hitam sedikit legam menggambarkan sosoknya sebagai seorang laki-laki yang penuh kekerasan dengan lekukan wajah yang begitu kaku. Namun, logat kentalnya yang terlihat kasar melahirkan kelembutan yang setiap orang belum tentu bisa menebak hatinya. Ica menganggap ceritanya selesai sampai di titik itu. Di mana jam sembilan tepat mereka berpisah karena larutnya waktu yang tak bersahabat.
“Ca, maaf aku tadi mengajak teman. Aku fikir daripada aku sendirian. Aku minta maaf, mungkin kamu nggak berkenan…” SMS dari Indra.
“It’s okaylah!” jawaban Ica singkat.
Seperti biasanya esok paginya Ica melakukan aktifitas di kampus. Suatu rutinitas yang membuat jenuh, dan payah luar biasa.
“Ca, maaf…Iyan tadi minta nomer HP-mu dan aku kasih. Dia ingin berteman denganmu katanya.” SMS dari Indra.
“Okay!” sekali lagi Ica menjawabnya singkat.
“Kamu marah, ya, Ca?” tanya Indra.
“It’s okay…” jawaban Ica yang membuat Indra penasaran.
Di tengah-tengah keasyikkan menikmati suasana kamar, Ica membaca sebuah novel dengan penghargaan nobel, ada sapaan yang membuat dia terkejut lewat sebuah SMS.
“Hai, ini Iyan.”
Seketika itu matanya melotot. Hal yang dia fikir berakhir di titik pertemuan kemarin sekarang malah berlanjut ke komunikasi SMS.
“Maaf, tadi dapat nomer dari Indra. Lagi apa?”
SMS-SMS seperti itu hampir setiap hari dia lakukan pada Ica. Namun, sambutan Ica pun hanya sepenggal-penggal. Sampai pada suatu waktu, Iyan memberanikan diri untuk menjenguk Ica disaat Ica sakit. Seakan tak bisa menolak keadaan Iyan yang sudah di depan pintu pagar.
“Ca, aku sudah di depan rumah kamu. Bukain…!” SMS dari Iyan saat itu. Dengan penuh malas Ica mengayunkan langkah kakinya untuk menemui Iyan.
“Hai…” sapa Iyan sambil menggosok-gosokkan dulu kedua telapak tangannya sebelum berjabat tangan dengan Ica. Ica tak tega melihatnya setengah basah karena hujan kala itu.
“Haiii…masuk, Yan!”
“Bagaimana, kamu baik, kan?”
“Iya, besok juga sudah baikkan…nggak apa-apa, Yan.” Jawab Ica lirih.
Itu adalah kedatangan Iyan yang kali kedua semasa pertemanannya dengan Ica. Mungkin dari tidak banyaknya Ica berbicara bisa dirasakan Iyan yang sudah membuat Ica tidak nyaman dengan kehadirannya. Entah, tak sampai satu jam, Iyan pamit untuk pulang.
“Maaf, aku sudah mengganggu istirahat kamu. Besok kamu pokoknya harus sembuh!” sambil berjabat tangan dengan Ica.
“Iya…” singkat sekali jawaban Ica.
Setelah saat itulah, terakhir dalam jangka waktu pendek Iyan tak pernah menghubungi Ica lagi. Hanya sekali waktu saja Iyan menanyakan kabar Ica. Sampai pada akhirnya sebelum pertemuan mereka yang terakhir, mereka berdua memutuskan untuk ketemu dan jalan. Di situlah Ica mulai sedikit berdebat dengan kata hatinya tentang sosok yang selama ini kurang bersahabat dengan dirinya. Perjalanan kecil hari itu banyak membuat Ica berfikir tentang sosok yang selalu mau menerima dia kapan pun dia butuh. Sosok yang tak pernah menghilangkan senyum untuknya. Sosok yang senantiasa menjaga sopan santunnya dalam sikap layaknya seorang laki-laki lugu yang ingin menjaga nama. Ini saat paling dekat Ica dengan Iyan yang ditebus dengan hanya beberapa jam saja.
Sedangkan urusan dengan Indra sudah tak lagi ada, entah kenapa keadaan merubah masa dan saat seperti ini.
Beberapa bulan kemudian…
Mereka berdua sudah jarang sekali untuk saling bertegur sapa. Iyan yang sibuk dengan teman-temannya, kuliahnya dan aktifitas yang begitu padat. Pernah sekali waktu Ica mencoba untuk mendahului dengan sapaan hangat lewat pesan singkat. Namun, beberapa kali jawaban yang dia dapat adalah datar-datar saja. Ica mulai berfikir mungkin Iyan sudah tahu kalau dia tak pernah berkenan akan kedatangannya.
Sampai tiba suatu masanya, Ica jalan dengan laki-laki yang menginginkan dia sebagai pendamping hidup. Di tengah hangatnya hubungan itu, muncul Iyan kembali dengan sesuatu komunikasi yang berbeda layaknya refresh dengan hubungan persahabatan mereka yang sekian lama hambar. Ica begitu senang, namun bercampur dengan terkejut. Sekian lama dia menanti sapaan orang yang keras kepala itu, baru kali ini teguran itu memasuki inbox Ica.
“Monyet…apa kabar?” SMS Iyan.
Sapaan Iyan sangat membuat panas hati Ica. Sebutan monyet yang serasa ringan terucap dari SMS Iyan. Bukan malah mereka melepas kangen, namun malah pertengkaran yang tersulut karena ketersinggungan Ica dengan tabiat Iyan yang semakin terlihat aslinya.
“Eh…kamu nggak bisa dengan sopan apa manggil nama orang?” balasan SMS dari Ica.
“Eh, kamu kok jadi marah-marah, sih! Itu kan karena aku merasa dekat denganmu! Seharusnya kau tahulah…hihihiii…” Iyan tak tersulut sama sekali dengan kemarahan Ica. Justru itu adalah candaan yang dianggap Iyan sangat lucu dari Ica.
Dari masalah yang sepele Ica jadi canggung lagi bermain-main dengan Iyan.
“Hah…dasar anak nggak tahu sopan santun! Masak manggil nama orang dengan sebutan monyet! Keterlaluan sekali, nggak menghargai perasaan orang!” dongkol hati Ica sambil menggerutu.
Tidak berhenti di situ saja. Iyan terus menggoda Ica dengan SMS-SMS yang sama seperti sebelumnya. Kata monyet hampir bersamaan dengan sapaannya pada Ica. Sampai akhirnya Ica benar-benar marah dan tidak ada satu telephone pun dijawab olehnya.
“Ca, tolong angkat telephone nya! Aku ingin bicara. Terserah kalau setelah itu kamu mau marah sama aku!” SMS yang Iyan kirimkan ke Ica.
Beberapa missed call terus memburu Ica, sampai Ica mematikan HP-nya. Ica tidak hanya diam. Fikirannya kemana-mana, ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya pada Iyan. Sampai akhirnya dia mengaktifan HP-nya kembali. Dan ada sebuah SMS kala itu yang membuat hatinya luluh.
“Terserah! Kamu mau matiin HP kamu, kamu mau nggak balas SMS-ku, tapi yang jelas aku akan menunggu sampai kamu mau menerima telephone-ku!”
“Besok saja, Yan! Aku mau istirahat sekarang…” akhirnya Ica membalas salah satu SMS Iyan dari sekian banyaknya SMS yang masuk.
“Nggak!!! Aku butuh bicara sama kamu sekarang!”
“Aku kurang enak badan. Besok saja kita ngobrol lagi…” Ica berusaha menghindar dan berkelit dalam keadaan seperti itu.
“Eh, Ca…kamu tinggal angkat telephone-ku. Kamu tinggal dengerin aku bicara. Aku ingin sekarang kita bicara, bukan besok…aku butuh waktu hanya 10 menit dan nggak lebih!” Iyan yang selalu keras kepala. Ica terkadang merasa terkejar tak bisa berkelit untuk bisa lari sembunyi.
Sekali lagi HP berdering dan nama Iyan memenuhi kotak-kotak panggilan yang tak terjawab.
“Hallo…”
“Akhirnya kau terima juga telephone-ku. Kau ini kenapa, sih?”
“Ca…jangan diam. Ngomong, dong!!!”
“Aku menerima panggilanmu karena kau yang minta. Sekarang kau mau bicara apa?” tanpa basa basi Ica memotong sepihak dalam obrolan mereka berdua.
“Ya…baik kalau kamu ingin seperti itu tanpa menjawab pertanyaanku dulu. Okay, aku akan bicara…”
Hati Ica serasa bergetar kencang. Tidak seperti biasanya Iyan ingin bicara serius dengannya. Nafasnya mulai sesak karena aliran darah yang semakin tak beraturan. Seakan kehabisan cadangan oksigen dalam ruangan.
“Kamu boleh marah setelah ini ke aku, Ca! Terserah kamu mau berfikir apa ke aku. Tapi, paling tidak aku sudah jujur ngomong ke kamu dan kamu pun cukup tahu.”
“Ya sudah, ngomong saja. Kamu mau cerita apa? Barangkali aku bisa bantu…masalah cewek kamu?” sahut Ica dengan tiba-tiba.
“Kamu salah! Aku nggak terfikir ke arah itu. Bukannya kau sudah mengenal diriku? Tak pernah aku bicarakan masalah perempuan padamu. Karena memang aku malas ke arah sana. Aku masih senang dengan diriku sekarang.”
“Ya sudah, bicaralah! Kau bilang hanya butuh waktu 10 menit dan nggak lebih!”
“Ca, aku nggak pernah tahu kenapa kau marah ke aku. Aku hanya canda sama kamu. Aku selalu seperti itu jika merasa dekat dengan seseorang. Aku ngerti kamu nggak pernah berkenan denganku mungkin. Aku merasakan itu. Aku nggak perlu tahu kamu jalan sama siapa, cowok kamu siapa. Entah, perasaanku seperti apa, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi, yang jelas ada sesuatu dalam hatiku, apakah itu cinta aku tak pernah tahu. Aku benar-benar bingung, Ca. Tapi, aku sayang sama kamu. Aku hanya mau jujur sama hatiku sendiri.”
“Tapi, kamu kan tahu aku sudah jalan sama cowok, Yan…”
“Aku nggak peduli. Aku menganggap itu adalah urusan kamu. Dan yang penting aku sudah bicara ke kamu. Aku nggak butuh jawaban kamu atau kamu terima aku atau tidak. Yang jelas rasa itu ada. Mungkin sudah 10 menit bahkan lebih aku bicara seperti ini. Sudahlah, terserah kamu. Kamu mau marah pun aku terima. Aku mungkin salah.”
Ica tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya meneteskan air mata. Dia tak sanggup menanggapi apa pun dari cerita Iyan kepadanya.
“Yan, aku menghargai perasaanmu. Terima kasih, ya…”
“Okay! Sudah 10 menit lebih, nih! Kamu istirahat sana. Cepet sembuh…yuk, dah…”
Iyan mengakhiri percakapan itu. Sedangkan Ica terbawa rasa hingga kebingungan hatinya tak terkendali. Dia hanya bisa meneteskan air mata.
“Selamat istirahat, Ca. Kau tak perlu memikirkan ucapanku tadi. Anggap saja nggak ada apa-apa…” SMS Iyan penutup malam disaat mata tak tahan lagi untuk terjaga.
***
Sosok ‘aku’ kembali menarikku dalam masa yang tak pernah bisa ke depan.
“Kau sudah menyampaikan kisahku yang tak pernah sampai?” ‘aku’ bertanya kepadaku.
“Hai ‘aku’! Masih belum percayakah kau kepadaku bahwa aku sudah menyampaikan pesanmu untuknya di masa depan?”
“Tidakkah kau datangi saja dalam mimpinya, sehingga aku tak susah payah harus menemuimu dan membuang setengah energiku karena gesekan dengan elektrolit-elektrolit bumi yang menguras kekuatan segala rohku?” rasa keputus asaanku menghampiri sesaat menghadapi sikap ‘aku’ yang semakin angkuh dengan cintanya.
“Andai kau tahu, bahwa aku tak pernah bisa menggapainya! Dia terlalu angkuh dengan perasaanku! Andai engkau tahu dia bermulut bisu yang mungkin tak pernah bisa berkata cinta pada seseorang! Kecuali jika dia mati! Tahukah kau akan cintanya yang menyiksaku?” sahabatku satu ini menangis tersedu-sedu. Ingin aku memeluknya dalam hatinya yang pilu tersayat masa, tapi apakah energiku masih tersisa untuk lebih dekat dengan ‘aku’? Tak ada kopi seperti biasanya kita berdua duduk bersama menikmati malam.
Aku menunduk sedih dan lesu tanpa bisa sepenuhnya mengerti akan perasaan ‘aku’!
***
Beberapa tahun kemudian…
“Ca, kamu kenapa? Kamu baik?” telephone Iyan yang membuat Ica tak bisa berkelit dengan keadaan yang sedang ditopangnya.
“Dia sangat menyakiti perasaanku, Yan! Dia egois, dia tak pernah mengerti aku dan pengorbananku. Aku bingung, Yan. Aku sudah cukup diam dalam beberapa tahun ini jalan dengannya…” Ica tak bisa lagi membendung tekanan yang sudah lama dia pendam tentang seorang kekasih yang sudah lama memeluk raganya.
“Manangislah sampai kau puas!!! Kamu tak perlu bercerita, hanya menangis saja aku akan menunggu dan mendengarkanmu sampai kamu lelah menangis, Ca…” ujar Iyan dengan penuh kelembutan walau logat kasar sering bergumul dengannya.
“Aku…aku…aku bingung, Yan…”
“Sudahhh…tak perlu kamu berkata-kata. Menangislah! Ayo, sayang…menangislah! Aku akan menunggumu…”
Malam itu seakan hanya milik mereka berdua. Dan semakin menambah kedekatan Ica dengan batin seseorang yang dinilainya berpenampilan amburadul nggak jelas. Dia ‘Iyan’ yang mempunyai sesuatu yang teguh dan kokoh hingga membuat Ica tak pernah terjatuh. Memang Iyan sosok yang keras kepala, serba tak mau diatur, dia lebih memilih untuk menikahi dunianya sendiri. Acak-acakkan dan tak pernah jelas langkahnya.
Dia tak pernah menyuruh Ica berpisah dari kekasihnya, dia hanya bercerita tentang sosok laki-laki. Dan membiarkan Ica melangkah dengan sendirinya atas semua keputusan yang diambil.
Seakan ada aliran kuat sebagai pengirim signal di mana Ica di kala ada masalah. Suatu persahabatan dengan kisah hati yang tak pernah jelas, tak pernah mau menjelaskan dan tak perlu dijelaskan. Karena semua tak akan pernah bisa jelas. Sekarang aku baru memahami kenapa ‘aku’ sang sahabatku tak pernah bisa berkata dengan grafik yang teratur. Karena memang Iyan tak pernah mempunyai grafik yang teratur pula dalam langkahnya.
Bagi Ica, Iyan adalah sosok yang tak pernah terungkap masa yang berada di bagian pojok dalam hatinya. Mungkin agak sedikit egois menempatkan seorang sahabat di kotak dalam sebuah aliran darah paling istimewa. Bukannya sahabat sebagai tamu saja di teras hati?
Aku tetap menghargai ‘aku’ yang tak pernah punya celah untuk mengisahkan hatinya yang terkunci oleh masa.
Dan kebencianku pada ‘aku’ telah luntur disaat dia ternyata mempunyai perasaan dingin yang bisa menyudutkan aku pada suasana terpilih. Sampai akhirnya ‘aku’ memilih menikahi sebuah raga yang punya kebebasan dalam cinta yang tak harus menunggu ajal menjemput. ‘Aku’ menyudutkan aku dengan pilihan yang terpilih, yaitu dengan sosok yang mampu berfungsi sebagai penambal kebocoran dinginnya hembusan angin salju untuk ‘aku’. Dan Iyan, tetap melekat di sudut hati sebagai sosok yang tak pernah terungkap sebagai apa dia dalam diri ‘aku’. Langkahnya sudah sangat melekat bersama darah yang menggumpal beriringan dengan bekunya hati. Menjadi noda yang tak pernah bisa terhapus.
‘Aku’ tak bisa menghilangkan Iyan dalam hidupnya. Bahkan sampai keturunan yang terhasilkan serasa butuh titik kelengkapan dengan sapaan penuh canda yang terulas dari bibir Iyan. Dan di mana pun ‘aku’ melangkah, Iyan selalu bisa mengejarnya, serasa wajah mereka bertatap dengan jarak hanya lima sentimeter. Dan hati yang selalu mencari arah, walau ‘aku’ telah disudutkan oleh masa yang terpilih di sudut jiwa yang lain.
***
“Hai ‘aku’! Sekarang aku sudah sangat mengerti dengan apa yang kau rasa. Setidaknya aku tak perlu enggan lagi untuk menemuimu…” kataku pada ‘aku’
“’Aku’ adalah sudut jiwa yang terpilih dan dia yang menjadikanku indah hingga masaku dan masamu nanti…” dengan jarak yang semakin melayang jauh dariku ‘aku’ perlahan meninggalkanku.
“Aku tak pernah mengerti maksudmu…” teriakku.
“Di sudut itu…kau akan menemukan ‘aku’! Karena ‘aku’…yang ada itu akan selalu indah…dan karena ‘aku’… yang indah itu akan selalu ada bersamamu…”
Air mataku menetes, hingga tetesanku bagai Kristal bening yang berkilauan. Apakah karena aku adalah yang terindah pula?
“Wahai ‘aku’…aku senang bisa membantumu menyampaikan kisahmu pada sudut jiwa yang tak pernah bisa terungkap, termasuk dirimu sendiri…jika engkau datang kembali padaku, aku akan menjadi yang terindah untuk selalu ada dalam kenyataan yang bisa kugapai di mana pun masa akan membawaku…”
Arie. P




















